• Home
  • CyberMQ
Ekspedisi Ayat-ayat Kawniyyah
Cara Bijak meraih kehanifan & Menjadi Ulul AlBaab
  • Profile

    • endang sobarudin
      endang sobarudin
      Saya adalah seorang penganut kabayanisme.... manifestasi dari kehanifan Ki sunda menuju keluhuran akhlak dan komitmen menuju sistem muamalah islami dalam masyarakat sunda-padjadjaran. Orang banyak mengira bahwa si kabayan sebagai seorang tokoh pandir... padahal fenomenal-nya adalah korban dari upaya sistematis menghapus kehanifan ki sunda pasca penjajahan mataram hingga berujudkan tokoh paradoksal "Borokokok". Tak lekang oleh waktu adalah kehanifan menuju sistem islami yang kaaffah (islamic holisme), dimulai oleh leluhur sunda (prabu wangi) dengan cara menolak sufisme yang di klaim sebagai wujud islam hingga kini. Padahal sufisme adalah salah satu model pengamalan dari aspek mistis dalam keimanan tetapi bukanlah manifestasi utuh dari Dinul islam, apalagi ketika masuk ke tanah sunda sufisme telah berbalut feodalisme dan mistis jawa. Dan kabayan lahir sebagai pemberontak laten atas pereduksian kehanifan sunda oleh penjajah lokal maupun kompeni. Dan tetap menolak segala bentuk reduksionisme dan terus berjuang menuju sistem muamalah nan luhur yang kemudian dikenal sekarang sebagai sistem madani berlandaskan Dinul Islam.... walahu`alam
  • Categories

    • Ekspedition (12)
    • Falsafah Dasar (20)
    • Hukum Kesederhanaan (3)
    • Ironi & Paradoksal (19)
    • Pertanian Biodynamis (11)
    • Reduksionisasi (14)
    • Wajah Reduksionisme (10)
  • Tag

      beda Shirot & sabil, niru2 reduksionist, Biang Reduksionisme3,
  • Archives

    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
  • Links

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 33672 kali
Apr 08

Fenomena "ikan asin"

Add comments

Fenomena Muslim Reduksionist VI

Seasin-asinnya air laut...maka ikan-ikan yang hidup di dalamnya tetap saja tawar dagingnya....

Mengapa demikian?.... karena segala komponen hidup dari si-ikan masih dalam keadaan lengkap ...utuh...dan tidak direduksi (dikurangi/dirubah) sedikit pun...

Namun beda halnya setelah si ikan dipisahkan oleh nelayan dari laut tempat hidupnya.... selain kehilangan komponen lingkungan hidupnya...kemudian dia kehilangan komponen nyawanya... juga komponen darahnya... selanjutnya komponen isi perutnya... dan akhirnya yang tertinggal... hanyalah komponen daging empuk tubuhnya saja.... dan agar dagingnya tersebut tahan lama maka sisa tubuhnya itu dibalsem oleh si nelayan dengan garam laut... JADILAH DIA IKAN ASIN.... yang berbeda jauh dengan dengan kondisi ikan laut ketika dia lengkap komponen hidupnya yang dagingnya tidak asin walau air laut tempat hidupnya berasa asin sekalipun

Seperti demikianlah nasib kaum muslimin pasca  reduksionisme .... pertama-tama dipisahkanlah kaum muslimin dengan ke-khalifahannya...kemudian dipisahkan dengan kondite masyarakat madaniah yang egaliter.... selanjutnya dipisahkanlah kaum muslimin dengan komponen-komponen Nidzhon (sistem) Islam lainnya.... dan yang sementara ini masih banyak tersisa adalah... Rukan Islam plus.... yang masih dapat dijalankan oleh masing-masing muslim agar kriteria muslimnya tetap terjaga....

Seibarat dengan ikan laut yang tinggal daging tubuhnya saja.... maka agar sisa komponen kemuslimannya tetap dapat dijaga lebih lama lagi maka "dibalsemlah" kaum muslimin dengan nasionalisme dan demokrasi thagut yang bukan Syuro sebagaimana telah disunnahkan... dan juga isme-isme lainnya

Dan tercerai-berailah kaum muslimin atas ciri dan teritory "nation" tertentu.... muslim indonesia... berbeda dengan muslim malaysia.... muslim palestina ....berbeda dengan muslim di negara-negara lainnya.... Selain itu, kaum muslimin saat ini juga berbeda-beda tergantung atas isme yang dianutnya...

Maka merebaklah kaum muslimin yang "hanya" dapat menunaikan rukum islam dengan cara menjadi Muslim nasionalis... Muslim demokratis.... dan varian-varian muslim lainnya.... hanya sekedar bertahan "saja" agar sisa-sisa kemusliman tersebut dapat terus dipertahankan.... walaupun dengan kondite sebagaimana buih yang diombang-ambing gelombang faham-faham dan isme yang menjauhkan dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Dan setelah tiap muslim menjelma kedalam varian-variannya.... maka berpecah-belahlah setiap dari mereka... dan semakin jauhlah upaya-upaya bersama untuk menata langkah untuk "Masuk ke dalam Islam secara Kaffah".... dan meraih kembali keutuhan sistem hidup kaum muslimin yang menjamin setiap pernak-pernik syariah dapat dilaksanakan secara komprehensi.... mulai dari sekedar urusan rutin sholat fardiah...hingga urusan-urusan ke-khalifahan yang menglobal...

Seakan telah terhapus dari memori meraka bahwa sejatinya pada awalnya kaum muslimin adalah seibarat "satu tubuh" tetapi kemudian tercerai beraikan hanya karena menganggap sepele faham reduksionisme yang bersemayam di jiwa mereka...

semoga menjadi bahan renungan


Tetap update tulisan dari endang sobarudin di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!

 Share ke Facebook

1 Response to Fenomena "ikan asin"

  1. nolobranti Says:
    Jum'at, 15 Januari 2010 08:50 WIB

    Aku sungguh belum faham dengan kata syuro yang anda sebutkan. Apalagi ditambahkan lagi dengan istilah sunnah. Saya dapat pesen dari teman jangan terburu-buru bilang sunnah. Bisa-bisa jadi KESESU tapi TIDAK NGGENAH.
    Sory cuma komentar

Leave a Reply

.::. Designed by SiteGround Web Hosting

cssandhtml