• Home
  • CyberMQ
Ekspedisi Ayat-ayat Kawniyyah
Cara Bijak meraih kehanifan & Menjadi Ulul AlBaab
  • Profile

    • endang sobarudin
      endang sobarudin
      Saya adalah seorang penganut kabayanisme.... manifestasi dari kehanifan Ki sunda menuju keluhuran akhlak dan komitmen menuju sistem muamalah islami dalam masyarakat sunda-padjadjaran. Orang banyak mengira bahwa si kabayan sebagai seorang tokoh pandir... padahal fenomenal-nya adalah korban dari upaya sistematis menghapus kehanifan ki sunda pasca penjajahan mataram hingga berujudkan tokoh paradoksal "Borokokok". Tak lekang oleh waktu adalah kehanifan menuju sistem islami yang kaaffah (islamic holisme), dimulai oleh leluhur sunda (prabu wangi) dengan cara menolak sufisme yang di klaim sebagai wujud islam hingga kini. Padahal sufisme adalah salah satu model pengamalan dari aspek mistis dalam keimanan tetapi bukanlah manifestasi utuh dari Dinul islam, apalagi ketika masuk ke tanah sunda sufisme telah berbalut feodalisme dan mistis jawa. Dan kabayan lahir sebagai pemberontak laten atas pereduksian kehanifan sunda oleh penjajah lokal maupun kompeni. Dan tetap menolak segala bentuk reduksionisme dan terus berjuang menuju sistem muamalah nan luhur yang kemudian dikenal sekarang sebagai sistem madani berlandaskan Dinul Islam.... walahu`alam
  • Categories

    • Ekspedition (12)
    • Falsafah Dasar (20)
    • Hukum Kesederhanaan (3)
    • Ironi & Paradoksal (19)
    • Pertanian Biodynamis (11)
    • Reduksionisasi (14)
    • Wajah Reduksionisme (10)
  • Tag

      beda Shirot & sabil, niru2 reduksionist, Biang Reduksionisme3,
  • Archives

    • July 2010
    • June 2010
    • May 2010
    • April 2010
    • March 2010
    • February 2010
    • January 2010
    • December 2009
    • November 2009
    • October 2009
  • Links

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 33673 kali
Jul 21

"The Ways" To Shirothol Mustaqim

Wajah Reduksionisme 0 Comment »

"Untuk apa Tuhan menciptakan mulut, jika kita dapat memasukan makanan melalui alat lainnya?" ......

Dan untuk apa pula Tuhan mengutus Rasululloh beserta Uswatun Hasanahnya, jika kita "hanya" dapat mengimplementasikan Al-Qur"an melalui ESQ ways, Golden ways dan "ways-ways" lainnya ?? ....

Demikianlah ungkapan aktivis dakwah dalam menanggapi episode nyata yang terjadi di alam nyata akhir-akhir ini, berupa keluarnya fatwa dari mufti Agama di Malaysia yang menyatakan bahwa ajaran ESQ ways adalah ajaran "sesat".

Maka inilah pelajaran penting dan "nasehat" bagi kita semua...........

Hingga dalam setiap rakaat sholat kita selalu bermohon untuk ditunjuki kepada Shirothol Mustaqim...

Kenapa sih?... kita tidak pernah diajarkan oleh rasululloh untuk bermohon dalam setiap rakaat sholat agar ditunjukki kepada "sabulus-salam" (jalan-jalan kebaikan) yang  dalam Bahasa Inggris "sabulus" tersebut diterjemahan dengan vocabulary "ways".

Bisa jadi inilah sudut pandang yang menyebabkan ESQ ways "dipandang" sesat oleh Mufti Malaysia.....

Dalam kaidah Bahasa Arab ... kosa kata "ash-shirot" hanya bermakna tunggal.... tidak pernah bermakna jamak... sehingga makna "Ash-shirotol Mustaqim"  hanya dapat diterjemahkan sebagai "satu-satunya" jalan yang lurus.... yang tidak membuka  peluang sedikit-pun yang dapat menyiratkan pemahaman kepada "nalar" manusia tentang adanya "jalan lurus" yang lainnya.... selain Shirotol Mustaqim itu sendiri..... Subhanalloh.

Berbeda halnya dengan kosa kata "as-sabil"  yang dapat mempunyai makna jamak menjadi "sabulus" misalnya, .....Oleh sebab itu,  istilah sabulus salam dapat bermakna luas berupa berbagai amalan kebajikan yang tidak hanya berbentuk "satu mode" kebajikan saja.... Bisa berbentuk jihad... zakat... puasa... muamalah... tijarah... tholabul ilmi... mencari nafkah ...dan lain sebagainya.

Ada satu hal yang perlu kita cermati.... bagi Muslim di Indonesia "memang" agak sulit memahami perbedaan kosa kata Ash-shirot dan as-sabil tersebut..... karena kedua kosa kata tersebut "sama-sama" diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan makna "Jalan".... Shirothol mustaqim diterjemahkan menjadi "jalan" yang Lurus.... Sabulus salam-pun diterjemahkan pula menjadi "jalan" kebaikan/keselamatan.... Seakan makna Ash-shirot adalah sama saja dengan makna as-sabil. Padahal hakekat dan makna azasi dari keduanya dalam kaidah bahasa arab adalah berbeda satu dengan lainnya.... Ash-shirot hanyalah bermakna satu-satunya jalan kebenaran yang tak bisa terbantahkan lagi hakikat dan titian kebenarannya,.... sedangkan as-sabil dapat berupa jalan kebenaran seperti pada istilah "Fi Sabilillah".... ataupun dapat pula berupa jalan keburukan seperti pada istilah "Sabilus Thagut"

Hikmah agung dari mempelajari dan memahami perbedaan Ash-shirot dan as-sabil tersebut "tiada lain" ... agar kita semua dapat lebih mudah dalam mensikapi secara proporsional dan Adil terhadap episode "Fatawa Sesat" terhadap ajaran ESQ ways oleh Mufti Agama Malaysia.

Pendek kata.... jalan kebaikan atau keselamatan (sabulus salam) bisa bermakna banyak macam dan bentuk yang beragam.... salah satunya bisa berbentuk "ESQ ways" yang telah dikenal luas dan dipelajari oleh para Muslim di Indonesia.... Namun dengan berpatokan kepada makna as-sabil tersebut maka dapat dipastikan "hakekat" kebaikan dan keselamatannya tidaklah dapat tampil sebagai satu-satunya jalan kebaikan, beda halnya jika dibandingkan dengan kemutlakan makna "satu-satunya" yang terkandung dalam istilah As-shirot seperti diuraikan di atas.

Lalu kenapakah sebentuk jalan kebaikan berupa ESQ ways itu, kemudian dianggap "sesat"?.... Tentu tidak dalam kapasitas seorang "Haqqul muslim" jika harus turut terjerumus ke dalam ranah saling tuduh-menuduh "sesat-menyesatkan"..... Biarlah  muslim-muslim "reduksionist" saja yang "tega" bertarung satu sama lainnya dalam memperebutkan tahta "tidak sesat" dalam pandangan "nalarnya" masing-masing.

Yang terpenting bagi kita semua adalah terus berdoa dan berusaha "berkompetisi" dalam kebaikan demi meraih ridho Alloh SWT, hingga kita semua dapat memperoleh hadiah "hidayah" berupa menetapi jejak langkah "ibadah" kita dalam "satu-satunya" Ash-shirothol mustaqim dan bukannya dalam satu-dua versi dan beragam inovasi sabulus salam...berbagai "jalan kebaikan" yang pernah digagas oleh "nalar" seorang muslim (reduksionist)....

Untuk memudahkan pemahaman dan kontekstualisasi perbedaan hakikat antara Ash-shirotol mustaqim dan sabulus salam.....Ada baiknya jika kita menelaah barang sejenak ilustrasi berupa Ayat Kawniyyah berikut ini :

Didunia fana ini..... hanyalah terdapat "satu" bidang lautan atau hamparan samudra luas nan "biru" di muka bumi ini... walaupun kemudian bidang hamparan itu dibagi-bagi menjadi beberapa wilayah laut dan samudra dan telah dinamai dengan nama-nama yang berbeda... namun pada dasarnya semua laut dan samudra tersebut hanyalah "satu" hamparan wadah samudra "biru" yang sama yang menyelimuti sebagian besar permukaan bumi ini.

Kedalam samudra "biru" tersebut bermuaralah seluruh sungai-sungai dari berbagai belahan daratan.... tak terkecuali satupun... dan dapat dipastikan bahwa semua aliran air dari semua sungai di dunia ini pastilah "ditelan" oleh satu samudra "biru".... (Dalam bahasa arab Ash-shirot... terambil dari akar kata yang bermakna "menelan")

Dan satu-satunya samudra "biru" itu dapat kita mitsalkan sebagai satu-satunya Shirothol Mustaqim yang mampu "menelan" seluruh sungai-sungai yang berbeda-beda aliran dan namanya sebagai mitsal dari berbeda-bedanya aliran dalam berbagai ragam "sabulus salam"....

Pandanglah sungai Nil.... sungai Missisipi... Sungai Kuning Yantze di Cina ....Sungai Citarum.... dan beribu Sungai  lainnya.... Semuanya dapat membawa kebaikan ....misalnya aliran sungai itu dapat dijadikan sebagai sumber pengairan "irigasi" bagi usaha pertanian tuk hasilkan beragam sumber pangan bagi manusia... dapat pula dijadikan sumber energi pembangkit Tenaga Listrik dan berbagai ragam kebaikan lainnya .... sebagai suatu pemitsal bentuk Sabulus salam yang dapat disandang sungai-sungai tersebut...... DAN SEMUA SUNGAI KEBAIKAN ITU PASTILAH BERMUARA KE DALAM SATU SAMUDRA BIRU.... Hingga Samudra biru itulah dapat sesuai dengan perumpaman "satu-satunya" Ash-shirothol Mustaqim yang mampu "menelan" beribu-ribu "sabulus salam" yang berbeda-beda alirannya.

Maka dapatlah kita bayangkan betapa "naifnya" potensi diri ini jika kita sedang berada di dataran tinggi Bandung namun "rela" selalu menyusuri dan bergantung "hajat" kepada sungai Citarum saja.... Di hulunya "memang" terpancar aliran mata air yang jernih.... namun pandanglah setelah aliran air yang jernih itu bercampur baur dengan aliran-aliran anak sungai lainnya yang sering membawa limbah pabrik atau limbah rumah tangga yang kotor... walau kemudian berkat bercampurnya berbagai aliran anak sungai tersebut ke dalam aliran sungai Citarum kemudian menjadikannya membesar dan terus membesar hingga menjadi sumber energi "besar" pembangkit listrik dalam waduk saguling,....... Namun pandanglah sejenak betapa "hitam-pekat" aliran Citarum setelah tercampur-baurnya dengan aliran anak sungai kecil pembawa limbah dan kotoran.... Belum lagi Ketika hujan besar datang  maka keruhlah airnya dan sering berpotensi menjadi sumber "bencana" banjir bagi penduduk Bandung Selatan....

Mitsalkan aliran sungai Citarum itu kita ibaratkan sebagai salah satu as-sabil as-salam berupa ESQ ways yang "pasti" dapat bermuara pula kepada "satu" Shirothol mustaqim Samudra "biru" .... maka Aliran Citarum adalah bersih di hulu mata airnya.... namun tidak dijamin "tetap" bersih ketika telah berada di hilir akibat adanya pencampur-bauran aliran.... Hingga dengan fenomena itu.... Citarum (ESQ ways) dapat berstandar ganda... Ia dapat memicu sumber kebaikan (sumber irigasi, PLTA)...namun  sekaligus dapat pula berefek negatif sebagai sumber bencana (pencemaran limbah dan banjir musiman)... Tetapi sebagai salah satu as-sabil as-salam.... maka ESQ ways yang diibaratkan sebagai Aliran Sungai Citarum yang awalnya berair jernih... kemudian berwarna hitam pekat karena bercampur dengan limbah.... atau dapat pula berubah warna menjadi coklat keruh sehabis hujan... Namun akhirnya .....jikalah aliran itu "dapat" sampai bermuara ke laut.... maka beragamnya warna aliran sungai Citarum beserta ribuan aliran sungai lainnya tersebut akhirnya hanyalah berwarna satu, yaitu "biru" jikalau telah sampai dan telah tertelan oleh samudra luas sebagai perumpaman satu-satunya Ash-shirotol mustaqim di dunia ini..... Wallahu "alam...

Sekali lagi bayangkanlah!!... jika kita mesti terus menerus berada dalam aliran ESQ ways... seibarat aliran Citarum.... dimana kita dapat terkotori oleh aliran lain... dan dapat berubah kedalam berupa macam warna.... dan "cenderung" tidak dapat berwarna "satu" ... yaitu di satunya "Biru" warna samudra yang luas sebagai umpama satu-satunya warna Shirothol Mustaqim dalam kehidupan yang "satu" adanya bagi seluruh muslim dimanapun dan sampai kapan-pun dalam Ridlo dan naungan Dienulloh....

Dengan demikian?....Mestikah kita terus berkutat melulu dalam ESQ ways?.... Golden ways?..... dan berbagai ways lainnya.... yang bertebaran muncul di alam pikiran kita hasil dari berbagai inovasi "nalar" manusia-manusia yang pasti berbeda-beda fikrohnya?

Sementara tak henti-hentinya kita selalu memohon kepada Alloh SWT dalam setiap rakaat sholat....agar kita dapat dihadiahi "hidayah" untuk dapat meniti Shirohtol Mustaqim...

Ash-Shirothol Mustaqim yang telah ditempuhi pula oleh orang-orang yang telah diberi nikmat... Para nabi... para Sahabat Nabi... Para sholihin....para syuhada...dan bukanlah jalan orang-orang reduksionist yang dimurkai Alloh SWT.....

Satu-satunya Ash-shirotol Mustaqim ....adalah jalan kehidupan yang telah ditetapkan oleh Rasululloh SAW dengan uswatun hasanahnya ... "Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada Shirothol Mustaqim" (Q.S. Asyura ; 52)

Dimana dengan Uswatun Hasanah tersebut telah teruji "efektif" dan berhasil meng-implementasikan Al-Quranul Karim dalam kehidupan khoirun ummah.... dan bukannya ditempuh melalui berbagai "ways" yang juga bertujuan "mencoba-coba" menerapkan Al-Quran dalam kehidupan masa kini melalui versi "nalarnya" masing-masing....

Maka Shirotol Mustaqim yang mana lagi yang akan kita tempuhi???.... 

Sehingga tidak ada lagi "ujaran" ...." Untuk apa Tuhan Mengutus Rasululloh SAW dengan Uswatun Hasanahnya, jika kita dapat menerapkan Al-Quran dalam kehidupan masa kini hanya melalui berbagai "ways" hasil inovasi setiap manusia?".

Semoga menjadi bahan instrospeksi dan hisab diri bagi orang-orang yang selalu berdoa dan berusaha menggapai hidayah Ash-shirotol Mustaqima.... Amin

(read more ...)
Jun 16

Ariel (Sharon) sang Reduksionist

Wajah Reduksionisme 1 Comment »

Reduksionisme Yahudi-Israel (Jilid IV)

Siapa yang tak kenal atau belum kenal dengan sosok Ariel Sharon ,,,,??

Dialah tokoh Yahudi-Israel yang bertanggung jawab pada tragedi pembantaian Qibya pada 13 Oktober 1953  di mana saat itu 96 orang Palestina tewas oleh Unit 101 yang dipimpinnya dan pembantaian Sabra dan Shatila di Libanon pada 1982 yang mengakibatkan antara 3.000 - 3.500 jiwa terbunuh...

Hingga PANTASLAH dengan kebiadabannya itu .... Dia dijuluki "Tukang Jagal dari Beirut".

Janganlah heran dengan tingkat kebiadabannya tersebut.... sebab sebagai seorang manusia "reduksionist sejati" maka dia telah suskes mereduksi sisi-sisi nurani (ESQ) dalam relung jiwanya... hingga taraf paling rendah... dan tersemburatlah setinggi-tingginya kemampuan Adversitas (Adversity Quotient/AQ) karenanya ....yang seterusnya memudahkan pencapaian hasil (Achievment) dari hal yang paling "biadab" sekalipun....

Namun setelah kita mengkaji uraian Reduksionisme kaum yahudi pada Jilid I hingga III... maka janganlah sekali-kali "lengah" terhadap akar-akar reduksionisme yang tengah berkembang pula dalam dada generasi muslim di Tanah Air...

Kabayan ditumbuh-besarkan dalam kehanifan sistem hidup holistik Sunda Wiwitan.... dengan sistem hidup holistik tersebut.... maka tumbuhlah cara pandang menyeluruh terhadap segala aspek (holistik view approach/kaaffah) atau dikenal dengan istilah Holisme.... tiada lain holisme inilah sebagai kebalikan dari faham reduksionisme yang hanya memandang satu dua aspek saja sembari menghilangkan atau mereduksi aspek-apek lainnya..... Berkat holisme Sunda Wiwitan tersebut-lah maka seakan tak ada ghirah dalam jiwa kabayan tuk turus terjerumus ke dalam gaya hidup reduksionisme.... Karena dengan holisme  tersebut pulalah maka tak ada alasan sedikit-pun dalam relung jiwa "Borokoko" kabayan untuk mengesampingan dan memilah-milah beragam potensi kecerdasan dalam jiwa setiap insan...

Menurut ahli psikologi modern dalam jiwa manusia dapat terkandung beragam bentuk kecerdasan....

Ada kecerdasan intelektual yang dikenal sebagai Intelektual Quotient (IQ).... ada kecerdasan emosional (EQ)... ada kecerdasan creatifitas atau dikenal dengan CQ.... ada kecerdasan spiritual (SQ) dan ada pula kecerdasan mengubah sesuatu aral rintangan menjadi peluang yang dikenal luas dengan istilah adversitas quotient (AQ)....

Dalam wadah jiwa penganut holisme maka kelima potensi kecerdasan tersebut dipadu padan secara berimbang hingga melahirkan jiwa tawazun... IQ-nya 20 %... EQ-nya 20%... CQ... SQ... dan AQ-nya pun 20% pula....

Tapi beda halnya dengan wadah jiwa penganut Reduksionisme.... jika dia ingin "pintar" selangit maka di"setting"lah wadah jiwanya berisi kecerdasan intelektual dengan taraf IQ hingga 80% sembari dengan terpaksa dia reduksi (kurangi/menghilangkan) taraf EQ, SQ, CQ dan AQ.... hingga tersisa komposisi masing-masing 5% saja misalnya.... Dan terwujudlah sosok Einsten karenanya... dengan intelektualitas tiada tara tersebut maka tak mampu lagi dia temukan "rasa iba" dalam jiwanya...dia racik lah pengetahuan yang memicu lahirnya Bom Atom yang tokcer meluluh-lantakan Hirosima tanpa bisa terenyuh lagi dengan penderitaan lahir-bathin yang mendera penduduk Hirosima saat bom atom itu dijatuhkan... karena tiada lain akibat dari taraf ESQ-nya begitu rendah.

Dan demikian pula halnya dengan Ariel Sharon.... Bisa jadi dia genjot sekuat-kuatnya kecerdasan Adversitas... Dengan genjotan kuat itu direduksilah ESQ hingga taraf 0%, sehingga bisa jadi dia berhasil meyemburatkan taraf AQ 95% dan CQ 5 %.... hingga dengan AQ selangit itu... maka berhasil-lah dia mengubah kebencian dunia terhadap yahudi menjadi peluang mendirikan negara Israel.... walau tanpa dilandasi rasa prikemanusian sedikit-pun... karena tak ada lagi dalam wadah jiwanya seberkah "nurani" yang bersandar pada taraf ESQ yang tinggi.

Tapi janganlah mengira langkah-langkah syetan berupa reduksionisme tersebut "hanyalah" milik kaum yahudi-israel semata...

Sebab tiba-tiba saja di tanah sunda tepatnya di kota Bandung muncul pula "ARIEL" walaupun bukan "SHARON"

Dia tidaklah se-intelek Einstein.... dan tidak pula sebiadab Sharon.... karena yang disemburatkan dalam jiwanya bukanlah kompoenen IQ atau AQ.... tapi komponen Creativity Quotientnya (CQ)..... hingga dengan CQ nan selangit itu tereduksilah ESQ hingga taraf yang minim.... boleh jadi dengan langkah pereduksian jiwa tersebut maka komposisi jiwa ARIEL menjadi berikut ini ;

CQ-nya mencuat ketaraf 50 %, lebih tinggi dari kebanyakan "insan" tawazun yang hanya 20%...hingga dengan CQ sedemikian tinggi memampukannya meng-kreasi nada-nada musikal dan aksi panggung yang menawan.....

IQ-nya boleh jd mencuat ke taraf 40 %.... lebih tinggi dari "insan" tawazun yang berkisar hanya 20%... maka dengan IQ sedemikian itu.... pintarlah pula dia memincut fans anak-anak muda....

Tapi apalah Lacut.... dengan langkah pereduksian jiwa yang ditempuh "ARIEL" tersebut mau-tidak mau ESQ-nya tinggallah tersisa seadanya.... bisa tersisa EQ 5 %...dan SQ 5%... sangat rendah bila dibandingkan "insan" tawazun yang berkisar pada taraf 20%.....

Maka janganlah heran jika akhir-akhir ini .... akibat dari rendahnya taraf ESQ dari ARIEL sang reduksionist... maka tak "malu-malu" lagi mempertonton-kan prilaku tidak senonoh kepada fans dan publik luas di Tanah air....walau mungkin dia berwujud "Muslim" dan berdarah "Serambi Mekah" sekalipun.

Hancurlah moral anak-anak muda karena tingkah Ariel "sang reduksionist" tersebut.... bisa efeknya jadi tak se-biadad Ariel Sharon.... Tapi tetap saja menyebabkan kerusakan moral tiada tara....

Wahai kaum muslimin.....sudah lengahkah kita semua .... terhadap peringatan Alloh SWT dalam Surah Al-Baqoroh?... "Bahawa tidak akan senang orang-orang yahudi, hingga kita turut ikut memilih millah reduksionist ala Yahudi"

Sudah lengahkah kita  dengan peringatan Rasululloh SAW..... Bahwa orang yang meniru (millah) suatu kaum adalah sama saja (millahnya) dengan kaum yang ditirunya tersebut?... hingga akibat dari "ARIEL" yang meniru millah ARIEL (Sharon)... Muncullah efek "negatif" yang sama yaitu menghancurkan nilai-nilai nurani dalam dada setiap kaum muslimin..... Naudzubillah

Waspadalah..... waspadalah....beware the reductionism...... semoga menjadi bahan perenungan dan introspeksi bagi kita semua

(read more ...)
Jun 12

Reduksionisme Bangsa Yahudi-Israel (jilid III)

Wajah Reduksionisme 0 Comment »

Tahukah anda penyebab azasi hingga kaum-kaum reduksionist bisa menjadi begitu sangat biadad?.... Lihatlah kaum yahudi!!... walau sedikit jumlahnya... tetapi daya hancur terhadap tarap kemuliaan manusia begitu dahsyat melalui praktek kebiadabannya yang tiada terperi!!!....

Maka cermatilah Ayat-ayat Kawniyyah berikut ini;

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna penciptaannya.... kelengkapan biologis dan rohaninya palinglah lengkap dibanding makhluq lainnya... punya mata.. telinga... fuad...dan kelengkapan organel jasmani lainnya.

Lalu bandingkanlah dengan kelengkapan binatang menyusui semitsal harimau... walau kelengkapan biologisinya hampir tiada beda dengan manusia ....Namun satu kelengkapan yang tak dimiliki binatang menyusui adalah komponen "fuadnya".... hingga karena ketiadaan fuad tersebutlah maka binatang secerdas apapun tak mungkin bisa menyamai kecerdasan manusia.... Hingga dapat dikatakan bahwa faktor pembeda adalah manusia dengan binatang menyusui adalah karena "tereduksinya" komponen fuad dalam morpologi tubuh dan jiwanya.

Seterusnya bandingkan pula dengan kelengkapan serangga semisal Nyamuk Aides aigypti.... Selain tak memiliki "fuad" juga kelengkapan organelnya lebih minim lagi dibandingkan dengan binatang menyusui.... Dapat dikatakan bahwa morfologi nyamuk lebih tereduksi lagi....ketiadaan komponen fuad beserta kelengkapan organ lainnya adalah pembeda nyata yang menyebabkan struktur tubuh nyamuk menjadi demikian "seadanya" dibandingkan dengan kelengkapan struktur tubuh binatang menyusui dan atau manusia yang lebih holistik.

Apalagi jika kita menilik komponen mikroorganisma seperti mikroba....yang kelengkapan organelnya kadang kala hanyalah sebuah sel... sungguh sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kelengkapan dan struktur tubuh seekor serangga nyamuk yang telah tereduksi sekalipun, Dimana struktur tubuh nyamuk masih mempunyai kelengkapan multi-selular yang menyusun tubuhnya....

Dan makhluq yang paling sangat tidak lengkap organelnya adalah "sakadang" virus... kelengkapannya sungguh sangat minim jika dibandingkan dengan mikroba bersel tunggal sekalipun, dia hanyalah mempunyai struktur DNA & RNA yang tiada lain adalah komponen penyusun sebuah sel.

Tapi janganlah pernah memandang remeh terhadap suatu fenomena ketidak-lengkapan struktur penyusun makhluq "TEREDUKSI" sebagai suatu bentuk kelemahan!!!....

Hanya gara-gara ketiadaan fuad pada binatang menyusui... maka seekor harimau bisa sedemikian buas ketika memangsa manusia yang begitu cerdas sekalipun.... tentu faktor timbulnya sifat kebuasan tersebut tiada lain karena ketiadaan hati nurani yang melekat pada fuad.

namun Janganlah pernah menganggap enteng atas ketidak-lengkapan struktur tubuh serangga nyamuk .... karena dengan kondisi tubuh yang sedemikan kecil tersebut dapatlah dengan mudah dia hinggap dan menggigit kulit manusia dan harimau sekalipun.... hingga menimbulkan rasa gatal atau menyebarkan penyakit kulit yang ganas.... atau menjadi vektor penyebaran penyakit berbahaya seperti Demam berdarah dengue yang bisa mengakibatkan kematian pada manusia.

Bahkan ....cuma dengan bermodal satu-dua komponen sel saja... Ternyata "sakadang" mikroba sangatlah digjaya untuk menguraikan, menghancurkan dan mencerai-beraikan setiap komponen dan struktur tubuh dari makhluq yang sangat sangat lebih besar dan sangat lengkap komponen tubuhnya dibandingkan komponen tubuhnya yang hanyalah berupa "satu" sel semata.... makhluq sebesar apapun dimuka bumi ini ....pada akhirnya akan diurai dan dibusukkan secara dahsyat oleh kiprah sakadang mikroba yang sedemikan tereduksinya komponen tubuhnya dibanding dengan komponen-komponen tubuh nyamuk, harimau hingga manusia sekalipun.

Maka terbetiklah pelajaran penting dari Ayat-ayat Kawniyyah diatas ... Yaitu semakin tereduksinya kelengkapan suatu makhluq maka semakin berbahaya dan "biadad" sifat-sifat dan daya penghancur makhluq "tereduksi" tersebut terhadap "eksistensi"  makhluq yang lebih lengkap dan holistik komponen tubuhnya....

Lalu kenapa kita masih menganggap enteng terhadap "bahaya laten" Reduksionisme....

Lihatlah kebiadaban ethnis Yahudi Israel yang demikian tak punya hati dalam melaksanakan penghancuran masa depan dan kehidupan Ummat di Jalur gaza.... Tiada lain faktor pencetus kebiadaban yahudi-Israel tersebut adalah karena telah tereduksinya komponen Kecerdasan Emosional dan Spiritual (ESQ) dalam jiwanya.... walaupun dengan langkah mereduksi komponen ESQ dalam jiwa tersebut ... etnic Yahudi "berhasil" menyemburatkan keunggulan kecerdasan intelektual (IQ) dan Adversitas  (AQ) semata dalam jiwanya.... hingga muncullah prilaku dominan berupa kelicikan beserta kebiadadan dalam jiwa Reduksionist kaum Yahudi-Israel.... Naudzubillah.

Cermatilah pula hasil-hasil nyata budaya reduksionisme dalam kehidupan umat modern.... dalam rangka mengenjot keunggulan IQ atau AQ semata melalui proses pendidikan sekuler ala kaum redusksionist....maka tak aneh begitu hebatlah kemampuan IQ dan AQ generasi modern... seraya disertai pula dengan tingkat kemiskinan nurani dan spiritual... Janganlah heran jika kemudian generasi ummat demikian genius dan semakin pintar namun disertai pula dengan kemerosotan nilai moral dan spiritual karenanya....

Dalam Surah Al Baqoroh telah diwanti-wanti bahwa Kaum yahudi tidak akan senang dan Ridlo kepada Ketawazunan jiwa insan-insan mulia... sebelum ummat "terperdaya" dan rela memilih millah yahudi yaitu menganut pola hidup reduksionist yang menawarkan keunggulan satu-dua komponen jiwa  tertentu seraya mereduksi komponen jiwa lainnya.

Hingga tidaklah mengherankan dengan semakin banyaknya insan-insan berjiwa reduksionist tersebut..... maka seakan semakin gencarlah pula langkah-langkah yang mengancam Ketawazunan jiwa dari generasi yang lebih lengkap komponen jiwanya.... Hal ini tiada lain sebagai fenomena ancaman seperti diperlihatkan dalam Ayat kawniyyah di atas... bahwa makhluq yang tereduksi dapat senantiasa mereduksi ke-holistikan makhluq yang lebih lengkap dan sempurna komponen penyusunnya.

Berkat idgembar-gemborkannya reduskionisme ......Kini Standar hidup ummat modern tidaklagi disandarkan kepada Kemuliaan Akhlaq.... tetapi kepada tingkat kegeniusan dan "Achievment" (pencapaian hasil/ prestasi) hasil dari upaya menyemburatkan keunggulan taraf IQ dan AQ seraya mereduksi ketawazun jiwa  yang pada awalnya berupa keseimbangan taraf IQ, AQ dan ESQ-nya yang sangat menunjang bagi tumbuhnya kemulian akhlaqul karimah....

Semoga kita semua dapat lebih waspada terhadap pola reduksionisme yang diterbarkan kaum reduskionist yang akan menjerumuskan ummat kepada millah Yahudi hingga mereka senang kepada jiwa-jiwa tereduksi dalam menghiasi kehidupan ummat.

(read more ...)
Jun 02

Reduksionisme Bangsa Yahudi-Israel (jilid II)

Wajah Reduksionisme 1 Comment »

Mengapa kaum Yahudi dikutuk?.... Tak tanggung-tanggung di setiap kitab Suci Agama Samawi .... tetaplah ditemui ketetapan Illahi... bahwasannya Kaum Yahudi adalah "kaum terkutuk"..... Padahal Alloh SWT telah melebihkannya berupa suatu keunggulan "nilai tambah" dibanding kaum lainnya....

Dengan menyimak kembali uraian pada jilid I... boleh jadi salah satu jawabnya adalah karena kaum Yahudi tega nian menerapkan REDUKSIONISME sebagai falsafah hidupnya... demi teraihnya "nilai tambah" dan mempertahankan "merk" kaum terunggul di muka bumi ini.

Fitrah manusia adalah fi ahsani takwin.... sebaik-baiknya penciptaan manusia... dengan dianugrahkan-Nya unsur-unsur potensi jiwa yang tawazun (berkeseimbangan)....  Namun dengan berpegang kepada mazhab reduksionisme-lah... ketawazunan potensi-potensi jiwa tersebut direduksi demi memunculkan satu-dua potensi saja yang dominan seraya mengebiri potensi jiwa lainnya yang telah dianugrahkan Alloh SWT kepada setiap insan....

Umumnya potensi jiwa yang dimunculkan demi mempertahankan merk kaum unggul dalam ethnic Yahudi adalah potensi Intelegensia dan adversitas (kecerdasan menghadapi hal yang susah)... atau dikenal dengan IQ dan AQ.... demi memunculkan dominasi taraf IQ dan AQ yang setingi mungkin tersebut... keturunan yahudi rela "mereduksi" potensi kecerdasan emosional dan spiritualnya (ESQ) dalam jiwanya sampai taraf serendah-rendahnya....

Maka janganlah harap suatu rasa belas kasih dapat "tersemburat" dari ethnic Yahudi..... karena dalam jiwa mereka yang penting adalah IQ & AQ-nya tinggi selangit.... hingga tak heran muncul tokoh-tokoh semitsal Albert Einsten.... yang IQ-nya selangit namun ESQ-nya hampir nihil..... dan dengan IQ tingginya tersebut.... tercetuslah teknologi Bom Hidrogen dan Bom Atom/Nuklir... Tanpa disertai lagi rasa bersalah ketika kedua teknologi tersebut benar-benar "tokcer" tuk memusnahkan seluruh ummat beserta bumi seisinya sekalipun...

Juga jangan heran pula munculnya tokoh semitsal George Soros... demi melabrak suatu rintang "kebangkitan Islam" di Asia tenggara maka dengan AQ-nya yang selangit ... begitu tumaninahnya beliau menjadi "raja tega" tuk guncangkan ekonomi Asia dengan achievment financialnya....

Maka tak pantas bagaimana lagi untuk dikatagorikan kaum terkutuk?.....

Demi mempertahankan "merk" sebagai manusia terunggul dimuka bumi.... maka direduksilah potensi jiwa yang dianggapnya kurang penting dalam meraih keunggulan di alam dunia.... yaitu dengan jalan mereduksi (mengurangi dan atau menghilang) potensi EQ dan SQ dalam sisi-sisi ruang jiwanya..... Hingga tak ada lagi rasa bersalah dalam relung jiwanya.... tak ada pula rasa takut kepada Tuhannya di jiwanya.... Maka fakta yang mana lagi yang dapat membebaskan kaum yahudi dari statusnya sebagai kaum terkutuk di muka bumi ini?...

Tak akan habis cerita tuk uraikan keterkutukan kaum yahudi sepanjang jaman.... Sebab sejak awal hingga akhir jaman Al-Quran telah membeberkannya secara faktual tentang keterkutukan kaum Yahudi.... tak berubah dan tak lekang dengan jaman....KAUM YAHUDI TETAPLAH menjadi kaum terkutuk sebagaimana telah ditetapkan konsistennya sebagai kaum terkutuk dalam Al-Quran... dan Al-Quran tidaklah berubah hingga akhir jaman.

Lantas??....

Kenapa kaum muslimin tidak mampu meniru konsistensi kaum Yahudi yang tetap sesuai dengan "ketetapannya" dalam Al-Quran?.... tetap konsisten sebagai kaum terkutuk?...

Sementara dengan "ketetapan" kaum muslimin yang pasti dijamin Rahmat Alloh SWT dengan keridloan-Nya dalam menegakkan Dienul Islam... maka tak urung kita sering "tergoda" tuk berbelok arah.... mengikuti pula langkah-langkah syetan alias reduksionisme.... hanya sekedar tuk meraih satu-dua peningkatan taraf IQ dan AQ semata... seraya otomatis mereduksi pula satu-dua tarap lebih rendah terhadap potensi ESQ dalam relung jiwanya.... padahal sekeras apapun kaum muslimin meningkatkan taraf IQ dan AQ... maka tak mungkinlah dapat menyamai taraf yang telah teraih oleh ethnis Yahudi beserta keturunannya.... Dan jikalau ada satu dua "muslim" yang tetap bersikeras mereduksi jiwa demi meningkatkan IQ dan AQ-nya setaraf yahudi.... maka tiada lain dia adalah benar-benar merelakan "keterkutukan" menimpa dirinya pula....  sebab manusia dan jin tidaklah semata-mata diciptakan untuk "pintar" saja dalam beribadah (berkat bertumpu kepada IQ dan AQ)..... Tetapi semata-mata hanyalah untuk "benar" dan "Ikhlas" dalam beribadah dengan cara meningkatkan kapasitas jiwanya yang mengusung taraf potensi IQ, AQ, EQ dan SQ secara berkeseimbangan sesuai dengan fitrah penciptaannya....

Semoga menjadi bahan introspeksi diri tuk menyelisik langkah-langkah syetan dalam ikhtiari kaum muslimin.... Amin.

(read more ...)
Jun 01

Reduksionisme Bangsa Yahudi-Israel (jilid I)

Wajah Reduksionisme 0 Comment »

Lintasan panjang sejarah ummat manusia telah mencatat sebuah fenomena langkah-langkah syetan yg selalu berhasil menawarkan nilai lebih bagi insan atau kaum hingga mereka tergoda untuk menelusuri langkah syetan tersebut akibat adanya tawaran "nilai lebih" dalam jiwa penganutnya.

Perlu sedikit pembahasan tentang apa dan mengapa langkah-langkah syetan itu dapat memberikan "nilai lebih" hingga mampu begitu mengoda untuk dijalani oleh setiap insan atau umat tertentu.

Ingatlah tentang klaim iblis moyangnya syetan yang mengaku terbuat dari api..... dan api selalu saja berfungsi sebagai prasyarat terjadinya proses pembakaran.... dan hasil akhir dari pembakaran itu adalah tereduksinya keutuhan campuran berbagai komponen benda asal menjadi satu-dua komponen akhir sisa pembakaran saja.... Hingga dengan mengkaji secara mendalam hakikat dari proses pembakaran sebagai aksi sang api tersebut.... maka kita akan mengenal apa yang disebut langkah-langkah syetan itu ...yang tiada lain adalah suatu upaya reduksionisasi terhadap keutuhan unsur-unsur penyusun dari segala sesuatu hal.

Sebatang kayu bakar awalnya terdiri dari beragam komponen... ada unsur air.... ada unsur hidrogen... ada unsur karbon... ada unsur oksigen.. dan kandungan unsur lainnya yang pada awalnya semua berpadu dalam sebatang kayu bakar....

Semasa kayu bakar itu terbakar api.... maka tereduksilah (terurai dan terkurangi) keterpaduan unsur-unsur penyusun kayu bakar tersebut... ada yang menjadi asap yang menandakan mulai tercerai berainya unsur-unsur gas dalam kayu bakar akibat terbakar api.... hingga akhirnya hanyalah tersisa unsur karbon saja berupa abu dan arang sisa pembakaran kayu bakar oleh "sang api" simbol langkah-langkah syetan yang berhasil mereduksi beragamnya kandungan unsur dalam kayu bakar hingga menjadi satu unsur karbon sajalah berupa arang dan abu....

Itulah salah satu ilustrasi untuk menggambarkan langkah-langkah sang syetan yang bertingkah selayaknya api ... hingga tingkah dari makhluk terkutuk laksana "api" itu adalah selalu berhasil mereduksi (mengurai dan mengurangi) keutuhan segala hal yang mampu direduksinya.

Lantas ????........ bagaimanakah langkah-langkah syetan berupa reduksionisasi itu dapat pula mereduksi keutuhan fitrah suci nafsiah (jiwa) manusia? .... marilah kita simak uraian berikut ini.........

Dengan mengunakan kosa kata Nafs bagi sesosok manusia.... Al-Quran seakan-akan ingin memberikan pamahaman kepada kita bahwa nafsiah (jiwa manusia) itu laksana sebuah wadah.... dan selayaknya sebuah wadah pastilah dapat terisi dari beragam komponen penyusunnya.... taruhlah jiwa manusia itu terdiri atas ... unsur lahiriah dan batiniah yang menyusun ujud nyata manusia.... atau lebih spesifik lagi dapat kita misalkan unsur penyusun jiwa itu terdiri atas unsur rasio (logika).... unsur mistis (bathini).... unsur spiritual ( pengalaman batiniah)....unsur empiris (pengalaman lahiriah)... transenden (ketuhanan)....kognisi (daya pikir)...afeksi (nurani) ...dan psiko motoris (daya upaya).... dan semuanya berpadu-padan sebagai fitrah kemanusiaan yang berkeseimbangan (tawazun) hingga jika dirata-rata secara kasar maka volume ke delapan unsur itu dalam jiwa manusia masing-masing bernilai 12,5 %.

Maka bayangkanlah jikalau keterpaduan unsur jiwa nan tawazun itu tereduksi melalui langkah-langkah syetan.... selayaknya tereduksinya kayu bakar menjadi abu dan arang hingga menyisakan satu unsur 100% karbon saja....

Sebagai contoh adalah tereduksi jiwa Einstein hingga hanya menyisakan unsur rasio, mistis, dan kognisi saja dalam jiwanya.... maka tak ayal lagi ...hasil dari pereduksian fitrah jiwa manusia menjadi jiwa reduksionist Einstein itu tersemburatlah "nilai lebih" sebagai daya tarik dari hasil proses pereduksian unsur penyusun jiwanya.... rasio Einstein meningkat hingga 33,33 % karenanya... sangatlah unggul dibanding rasio setiap manusia biasa pada umumnya yang rata-rata hanya bernilai 12,5 %.... Sungguh menawarkan nilai lebih dan keunggulan... hingga dari keunggulannya tersebut dapatlah dia formulasikan kaidah relativisme yang belum pernah terpikirkan oleh manusia lainnya.... hingga dikenalkanlah kepada rasio manusia-manusia lainnya rumus E = MC2.... yang seakan tak mampu terbantahkan lagi secara logika manusia.

Tereduksinya unsur lainnya dalam jiwa einstein semisal tak terkandungnya lagi dalam sisi ruang jiwanya unsur spiritual dan transendensi... menyebabkan jiwanya tak mampu lagi untuk memikul nilai-nilai bertuhan dan tak mungkin lagi terselip pengalaman spiritual selayaknya manusia-manusia tawazun pada umumnya.... tengoklah hasil kedigjayaan rasio dan koginisinya yang menghantarkannya untuk memperoleh nilai nisbi kecepatan cahaya... dimana dengan nilai nisbi tersebut jarak tempuh cahaya dari satu bintang dengan bintang lainnya harus ditembuh dalan skala waktu tahunan.... Hingga dengan adanya nilai kenisbian kecepatan cahaya versi einstein tersebut, maka pengalaman spiritual dan ketuhanan yang terekam dalam episode "Isro-Mi"raj" Nabi Muhammad SAW menjadi ternistakan karenanya.... sebab bagaimana mungkin sekelas manusia dapat menempuh perjalanan sehari semalam hingga menembus ke Sidratul muntaha.... lawong sekelas cahaya saja yang menurut Logika Einsten adalah memiliki kecepatan "tercepat" di jagad raya ini ......memerlukan ribuan tahun cahaya untuk menempuhi satu belahan langit ke belahan langit lainnya..... Maka di dalam jiwa reduksionist Einsten dan para penganutnya, manalah mungkin dapat terjadi peristiwa Isro-Mi"raj yang hanya ditempuhi sehari semalam??..... Tak ada lagi sisi pembenaran dalam jiwa Eisntein terhadap isro-Miraj akibat dari keunggulan rasio Einstein ditengah ketiadanya lagi unsur transendensi dan spiritual dalam sisa sisi jiwanya hingga tak dapat lagi memampukannnya untuk membenarkan peristiwa Isro mi"raj tersebut.... Naudzubillah

Inilah sekilas episode nyata betapa reduksionisme yang tiada lain adalah bentuk langkah-langkah syetan yang telah dianut sejak lama oleh kaum yahudi dan "keturunan yahudi" semitsal Einsten... hingga dengan reduksionisme-nya tersebut maka Tuhan menganugrahkan sebentuk keunggulan kepada "kaum Yahudi" hingga keturunannya.... yang tiada lain "keunggulannya" tersebut adalah suatu tawaran menggiurkan dari "nilai lebih" atas dianutnya azas-azas reduksionisme pembentuk jiwa Zudaisme.

Maka atas jiwa reduksionisme pembentuk millah yahudi tersebut.... janganlah heran jiwa keturunan mereka kini tak punya lagi sisi-sisi jiwa yang menyemburatkan lagi nilai nurani (afeksi)..... Hingga kekerasan demi kekerasan tiada berprikemanusian seringkali dipertontonkan dengan pongahnya.... sebab demi suatu nilai lebih keunggulan jiwa telah dengan "tega" dibenamkan dalam jiwanya melalui pengejawantahan Langkah-langkah syetan yang terkutuk itu.... tuk mereduksi unsur-unsur jiwa lainnya... sebagaimana layaknya unsur-unsur jiwa manusia yang secara fitrah masih terkandung utuh dan berkesimbangan dalam jiwa manusia tawazun yang masih menyiratkan sisi-sisi jiwa yang penuh nilai  afeksi, spiritual, transendensi..... hingga dengan sisi-sisi jiwa tersebut menyebabkan sosok manusia tawazun selalu bersebrangan dengan millah kaum Yahudi dimanapun dan sampai kapan-pun.... bersambung.

(read more ...)
.::. Designed by SiteGround Web Hosting

cssandhtml