"Untuk apa Tuhan menciptakan mulut, jika kita dapat memasukan makanan melalui alat lainnya?" ......
Dan untuk apa pula Tuhan mengutus Rasululloh beserta Uswatun Hasanahnya, jika kita "hanya" dapat mengimplementasikan Al-Qur"an melalui ESQ ways, Golden ways dan "ways-ways" lainnya ?? ....
Demikianlah ungkapan aktivis dakwah dalam menanggapi episode nyata yang terjadi di alam nyata akhir-akhir ini, berupa keluarnya fatwa dari mufti Agama di Malaysia yang menyatakan bahwa ajaran ESQ ways adalah ajaran "sesat".
Maka inilah pelajaran penting dan "nasehat" bagi kita semua...........
Hingga dalam setiap rakaat sholat kita selalu bermohon untuk ditunjuki kepada Shirothol Mustaqim...
Kenapa sih?... kita tidak pernah diajarkan oleh rasululloh untuk bermohon dalam setiap rakaat sholat agar ditunjukki kepada "sabulus-salam" (jalan-jalan kebaikan) yang dalam Bahasa Inggris "sabulus" tersebut diterjemahan dengan vocabulary "ways".
Bisa jadi inilah sudut pandang yang menyebabkan ESQ ways "dipandang" sesat oleh Mufti Malaysia.....
Dalam kaidah Bahasa Arab ... kosa kata "ash-shirot" hanya bermakna tunggal.... tidak pernah bermakna jamak... sehingga makna "Ash-shirotol Mustaqim" hanya dapat diterjemahkan sebagai "satu-satunya" jalan yang lurus.... yang tidak membuka peluang sedikit-pun yang dapat menyiratkan pemahaman kepada "nalar" manusia tentang adanya "jalan lurus" yang lainnya.... selain Shirotol Mustaqim itu sendiri..... Subhanalloh.
Berbeda halnya dengan kosa kata "as-sabil" yang dapat mempunyai makna jamak menjadi "sabulus" misalnya, .....Oleh sebab itu, istilah sabulus salam dapat bermakna luas berupa berbagai amalan kebajikan yang tidak hanya berbentuk "satu mode" kebajikan saja.... Bisa berbentuk jihad... zakat... puasa... muamalah... tijarah... tholabul ilmi... mencari nafkah ...dan lain sebagainya.
Ada satu hal yang perlu kita cermati.... bagi Muslim di Indonesia "memang" agak sulit memahami perbedaan kosa kata Ash-shirot dan as-sabil tersebut..... karena kedua kosa kata tersebut "sama-sama" diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan makna "Jalan".... Shirothol mustaqim diterjemahkan menjadi "jalan" yang Lurus.... Sabulus salam-pun diterjemahkan pula menjadi "jalan" kebaikan/keselamatan.... Seakan makna Ash-shirot adalah sama saja dengan makna as-sabil. Padahal hakekat dan makna azasi dari keduanya dalam kaidah bahasa arab adalah berbeda satu dengan lainnya.... Ash-shirot hanyalah bermakna satu-satunya jalan kebenaran yang tak bisa terbantahkan lagi hakikat dan titian kebenarannya,.... sedangkan as-sabil dapat berupa jalan kebenaran seperti pada istilah "Fi Sabilillah".... ataupun dapat pula berupa jalan keburukan seperti pada istilah "Sabilus Thagut"
Hikmah agung dari mempelajari dan memahami perbedaan Ash-shirot dan as-sabil tersebut "tiada lain" ... agar kita semua dapat lebih mudah dalam mensikapi secara proporsional dan Adil terhadap episode "Fatawa Sesat" terhadap ajaran ESQ ways oleh Mufti Agama Malaysia.
Pendek kata.... jalan kebaikan atau keselamatan (sabulus salam) bisa bermakna banyak macam dan bentuk yang beragam.... salah satunya bisa berbentuk "ESQ ways" yang telah dikenal luas dan dipelajari oleh para Muslim di Indonesia.... Namun dengan berpatokan kepada makna as-sabil tersebut maka dapat dipastikan "hakekat" kebaikan dan keselamatannya tidaklah dapat tampil sebagai satu-satunya jalan kebaikan, beda halnya jika dibandingkan dengan kemutlakan makna "satu-satunya" yang terkandung dalam istilah As-shirot seperti diuraikan di atas.
Lalu kenapakah sebentuk jalan kebaikan berupa ESQ ways itu, kemudian dianggap "sesat"?.... Tentu tidak dalam kapasitas seorang "Haqqul muslim" jika harus turut terjerumus ke dalam ranah saling tuduh-menuduh "sesat-menyesatkan"..... Biarlah muslim-muslim "reduksionist" saja yang "tega" bertarung satu sama lainnya dalam memperebutkan tahta "tidak sesat" dalam pandangan "nalarnya" masing-masing.
Yang terpenting bagi kita semua adalah terus berdoa dan berusaha "berkompetisi" dalam kebaikan demi meraih ridho Alloh SWT, hingga kita semua dapat memperoleh hadiah "hidayah" berupa menetapi jejak langkah "ibadah" kita dalam "satu-satunya" Ash-shirothol mustaqim dan bukannya dalam satu-dua versi dan beragam inovasi sabulus salam...berbagai "jalan kebaikan" yang pernah digagas oleh "nalar" seorang muslim (reduksionist)....
Untuk memudahkan pemahaman dan kontekstualisasi perbedaan hakikat antara Ash-shirotol mustaqim dan sabulus salam.....Ada baiknya jika kita menelaah barang sejenak ilustrasi berupa Ayat Kawniyyah berikut ini :
Didunia fana ini..... hanyalah terdapat "satu" bidang lautan atau hamparan samudra luas nan "biru" di muka bumi ini... walaupun kemudian bidang hamparan itu dibagi-bagi menjadi beberapa wilayah laut dan samudra dan telah dinamai dengan nama-nama yang berbeda... namun pada dasarnya semua laut dan samudra tersebut hanyalah "satu" hamparan wadah samudra "biru" yang sama yang menyelimuti sebagian besar permukaan bumi ini.
Kedalam samudra "biru" tersebut bermuaralah seluruh sungai-sungai dari berbagai belahan daratan.... tak terkecuali satupun... dan dapat dipastikan bahwa semua aliran air dari semua sungai di dunia ini pastilah "ditelan" oleh satu samudra "biru".... (Dalam bahasa arab Ash-shirot... terambil dari akar kata yang bermakna "menelan")
Dan satu-satunya samudra "biru" itu dapat kita mitsalkan sebagai satu-satunya Shirothol Mustaqim yang mampu "menelan" seluruh sungai-sungai yang berbeda-beda aliran dan namanya sebagai mitsal dari berbeda-bedanya aliran dalam berbagai ragam "sabulus salam"....
Pandanglah sungai Nil.... sungai Missisipi... Sungai Kuning Yantze di Cina ....Sungai Citarum.... dan beribu Sungai lainnya.... Semuanya dapat membawa kebaikan ....misalnya aliran sungai itu dapat dijadikan sebagai sumber pengairan "irigasi" bagi usaha pertanian tuk hasilkan beragam sumber pangan bagi manusia... dapat pula dijadikan sumber energi pembangkit Tenaga Listrik dan berbagai ragam kebaikan lainnya .... sebagai suatu pemitsal bentuk Sabulus salam yang dapat disandang sungai-sungai tersebut...... DAN SEMUA SUNGAI KEBAIKAN ITU PASTILAH BERMUARA KE DALAM SATU SAMUDRA BIRU.... Hingga Samudra biru itulah dapat sesuai dengan perumpaman "satu-satunya" Ash-shirothol Mustaqim yang mampu "menelan" beribu-ribu "sabulus salam" yang berbeda-beda alirannya.
Maka dapatlah kita bayangkan betapa "naifnya" potensi diri ini jika kita sedang berada di dataran tinggi Bandung namun "rela" selalu menyusuri dan bergantung "hajat" kepada sungai Citarum saja.... Di hulunya "memang" terpancar aliran mata air yang jernih.... namun pandanglah setelah aliran air yang jernih itu bercampur baur dengan aliran-aliran anak sungai lainnya yang sering membawa limbah pabrik atau limbah rumah tangga yang kotor... walau kemudian berkat bercampurnya berbagai aliran anak sungai tersebut ke dalam aliran sungai Citarum kemudian menjadikannya membesar dan terus membesar hingga menjadi sumber energi "besar" pembangkit listrik dalam waduk saguling,....... Namun pandanglah sejenak betapa "hitam-pekat" aliran Citarum setelah tercampur-baurnya dengan aliran anak sungai kecil pembawa limbah dan kotoran.... Belum lagi Ketika hujan besar datang maka keruhlah airnya dan sering berpotensi menjadi sumber "bencana" banjir bagi penduduk Bandung Selatan....
Mitsalkan aliran sungai Citarum itu kita ibaratkan sebagai salah satu as-sabil as-salam berupa ESQ ways yang "pasti" dapat bermuara pula kepada "satu" Shirothol mustaqim Samudra "biru" .... maka Aliran Citarum adalah bersih di hulu mata airnya.... namun tidak dijamin "tetap" bersih ketika telah berada di hilir akibat adanya pencampur-bauran aliran.... Hingga dengan fenomena itu.... Citarum (ESQ ways) dapat berstandar ganda... Ia dapat memicu sumber kebaikan (sumber irigasi, PLTA)...namun sekaligus dapat pula berefek negatif sebagai sumber bencana (pencemaran limbah dan banjir musiman)... Tetapi sebagai salah satu as-sabil as-salam.... maka ESQ ways yang diibaratkan sebagai Aliran Sungai Citarum yang awalnya berair jernih... kemudian berwarna hitam pekat karena bercampur dengan limbah.... atau dapat pula berubah warna menjadi coklat keruh sehabis hujan... Namun akhirnya .....jikalah aliran itu "dapat" sampai bermuara ke laut.... maka beragamnya warna aliran sungai Citarum beserta ribuan aliran sungai lainnya tersebut akhirnya hanyalah berwarna satu, yaitu "biru" jikalau telah sampai dan telah tertelan oleh samudra luas sebagai perumpaman satu-satunya Ash-shirotol mustaqim di dunia ini..... Wallahu "alam...
Sekali lagi bayangkanlah!!... jika kita mesti terus menerus berada dalam aliran ESQ ways... seibarat aliran Citarum.... dimana kita dapat terkotori oleh aliran lain... dan dapat berubah kedalam berupa macam warna.... dan "cenderung" tidak dapat berwarna "satu" ... yaitu di satunya "Biru" warna samudra yang luas sebagai umpama satu-satunya warna Shirothol Mustaqim dalam kehidupan yang "satu" adanya bagi seluruh muslim dimanapun dan sampai kapan-pun dalam Ridlo dan naungan Dienulloh....
Dengan demikian?....Mestikah kita terus berkutat melulu dalam ESQ ways?.... Golden ways?..... dan berbagai ways lainnya.... yang bertebaran muncul di alam pikiran kita hasil dari berbagai inovasi "nalar" manusia-manusia yang pasti berbeda-beda fikrohnya?
Sementara tak henti-hentinya kita selalu memohon kepada Alloh SWT dalam setiap rakaat sholat....agar kita dapat dihadiahi "hidayah" untuk dapat meniti Shirohtol Mustaqim...
Ash-Shirothol Mustaqim yang telah ditempuhi pula oleh orang-orang yang telah diberi nikmat... Para nabi... para Sahabat Nabi... Para sholihin....para syuhada...dan bukanlah jalan orang-orang reduksionist yang dimurkai Alloh SWT.....
Satu-satunya Ash-shirotol Mustaqim ....adalah jalan kehidupan yang telah ditetapkan oleh Rasululloh SAW dengan uswatun hasanahnya ... "Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada Shirothol Mustaqim" (Q.S. Asyura ; 52)
Dimana dengan Uswatun Hasanah tersebut telah teruji "efektif" dan berhasil meng-implementasikan Al-Quranul Karim dalam kehidupan khoirun ummah.... dan bukannya ditempuh melalui berbagai "ways" yang juga bertujuan "mencoba-coba" menerapkan Al-Quran dalam kehidupan masa kini melalui versi "nalarnya" masing-masing....
Maka Shirotol Mustaqim yang mana lagi yang akan kita tempuhi???....
Sehingga tidak ada lagi "ujaran" ...." Untuk apa Tuhan Mengutus Rasululloh SAW dengan Uswatun Hasanahnya, jika kita dapat menerapkan Al-Quran dalam kehidupan masa kini hanya melalui berbagai "ways" hasil inovasi setiap manusia?".
Semoga menjadi bahan instrospeksi dan hisab diri bagi orang-orang yang selalu berdoa dan berusaha menggapai hidayah Ash-shirotol Mustaqima.... Amin
(read more ...)


