• Home
  • Abatasa
Ekspedisi Ayat-ayat Kawniyyah
Cara Bijak Meraih Kehanifan & Menjadi Ulul AlBaab
  • Profile

    • endang sobarudin
      endang sobarudin
      Saya adalah seorang penganut kabayanisme.... manifestasi dari kehanifan Ki sunda menuju keluhuran akhlak dan komitmen menuju sistem muamalah islami dalam masyarakat sunda-padjadjaran. Orang banyak mengira bahwa si kabayan sebagai seorang tokoh pandir... padahal fenomenal-nya adalah korban dari upaya sistematis menghapus kehanifan ki sunda pasca penjajahan mataram hingga berujudkan tokoh paradoksal "Borokokok". Tak lekang oleh waktu adalah kehanifan menuju sistem islami yang kaaffah (islamic holisme), dimulai oleh leluhur sunda (prabu wangi) dengan cara menolak sufisme yang di klaim sebagai wujud islam hingga kini. Padahal sufisme adalah salah satu model pengamalan dari aspek mistis dalam keimanan tetapi bukanlah manifestasi utuh dari Dinul islam, apalagi ketika masuk ke tanah sunda sufisme telah berbalut feodalisme dan mistis jawa. Dan kabayan lahir sebagai pemberontak laten atas pereduksian kehanifan sunda oleh penjajah lokal maupun kompeni. Dan tetap menolak segala bentuk reduksionisme dan terus berjuang menuju sistem muamalah nan luhur yang kemudian dikenal sekarang sebagai sistem madani berlandaskan Dinul Islam.... walahu`alam
  • Categories

    • Ekspedition (12)
    • Falsafah Dasar (21)
    • Hukum Kesederhanaan (4)
    • Ironi & Paradoksal (13)
    • Khittah Reduksionist (4)
    • Pertanian Biodynamis (12)
    • Pox Kabayan Pox Deui (5)
    • Reduksionisasi (14)
    • Wajah Reduksionisme (12)
  • Tag

      reduksionisme, intelektual, kesombongan, filsafat, islam, sunda, Kabayanisme III,
  • Archives

    • November 2011
    • May 2011
    • March 2011
    • February 2011
    • January 2011
    • November 2010
    • October 2010
    • September 2010
    • July 2010
    • June 2010
  • Links

  • Statistik

      Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 97149 kali
Nov 18

Agar Sombong Menjadi Shodaqoh (jilid I)

Khittah Reduksionist 0 Comment »

Menyelisik Langkah-langkah Syetan Jilid IV

(read more ...)


Nov 16

Mengenal Holisme Sunda (jilid 1)

Pox Kabayan Pox Deui 0 Comment »

Ketika harimau menjadi raja hutan....Tetapi mengaum di Kebun Binatang....

Ketika Ki Sunda menempuh "Millah" Kehanifannya....Tetapi terkerangkeng oleh jeruji Penjajahan dan Millah wong Jowo

 

"Millah" kadang sulit di definisikan secara tepat dalam bahsa Indonesia, maklumlah...karena kosa kata tersebut adalah unsur serapan dari bahasa Arab.... kadang orang artikan Millah dengan makna agama... seringpula Millah di artikan dengan gaya hidup... Namun yang penting adalah konteks Millah tersebut jelas-jelas bisa kita rasakan ketika ada upaya suatu kaum lainnya yang berusaha memaksakan millahnya menjadi "millah" kaum lainnya.... dimana upaya pemaksaan millah itu berlangsung melalui berbagai bentuk praktek "penjajahan"... baik penjajah fisik, mental atau ekonomis dan idiologis

Kaum apapun pastilah punya millah sendiri-sendiri...  dan millah suatu kaum, dapat di ibaratkan dengan watak atau sifat dalam level pribadi atau personal ....

Urang Sunda telah punya Millahnya tersendiri... dan demikian pula dengan wong jowo dengan millahnya pula..... sehingga mudahlah dengan millahnya itu untuk membedakannya urang sunda dengan wong jowo walau keduanya hidup dalam satu pulau yang sama.... pada kondisi tertentu perbedaan Millah itu "mungkin" dapat ditunjukkan dengan perbedaan Bahasa dan dialektika.... Namun tidak serta merta faktor bahasa itu dapat menjadi representasi suatu millah.... contohnya orang sunda bisa saja fasih berbahasa jawa atau sebaliknya... namun tidak serta merta dengan kefasihan bahasa jawanya itu menjadikannya "seorang" jawa...

Adalah suatu kesalahan besar jika kita "hanya" membedakan antara Sunda dan jawa dengan faktor pembedaan bahasanya semata....

Urang Sunda juga telah mempunyai "teritory" tatar wilayahnya sendiri... dan demikian pula dengan wong jowo... hingga suatu kesalahan besar jikalau kita membedakan sunda dengan jawa hanya dari teritori wilayahnya saja... sebab urang sunda dapat saja tinggal di teritorial wong jowo dan demikian pula sebaliknya....

Hingga satu faktor yang sangat bisa diandalkan membedakan antara "urang Sunda" dengan "wong Jowo" adalah dengan menilik millahnya masing-masing....

Sunda - Jawa berada dalam satu pulau yang sama, namun keduanya dapat secara jelas dibedakan oleh faktor pembedaaan Millahnya sendiri-sendiri.

Secara filologis.... Millah Sunda adalah dibangun dengan faham "holisme".... tepatnya holisme alamiah (Nature"s holism).... sedangkan Millah jawa dibangun dengan faham "reduksionisme" atau dapat pula dikategorikan sebagai holisme buatan-non alamiah (Artificial holism)....

Dalam faham holisme .......kuda barulah dapat disebut kuda melalui cara pandang yang utuh terhadap segala hal-ihwal tentang kuda....dia harus menjelma dalam ujud kuda yang tentu saja bisa meringkik, beranak-pinak melahirkan anak kuda lagi dan memakan rumput atau pakan lainnya yang dapat dimakan oleh seekor kuda "yang benar-benar kuda"

Berbeda halnya dengan faham reduksionisme.... dimana fenomena "seekor kuda" tak perlu dipandang secara utuh karena hanyalah suatu bahan inspirasi semata untuk kemudian direduksi menjadi sebentuk "patung kuda"....kuda kepang... kuda-kudaan...dan lain sebagainya yang dapat diciptakan oleh akal-budi manusia.... yang kesemuanya itu kadong diujudkan dalam Millah wong jowo berkat faham artificial holism yang memberikan ruang kepada ego dan subyektifitas setiap manusia untuk leluasa mengkreasikan kuda dalam beragam bentuk ciptaannya..... dalam arti luas melalui faham reduksionisme inilah wong jowo diberi keleluasaan mereduksi segala hal (merubah komponen sistem alami menjadi sesuatu unsur buatan hasil akal-budi manusia).

Tidaklah mengherankan jika dari setiap kerajaan urang sunda... sejak kerajaan Galuh hingga Padjadjaran tidaklah mementingkan unsur-unsur ciptaan manusia yang Monumental.... tak ada peninggalan Istana dan sangat jarang ditemukannya artefak-artefak yang dapat menjadi "barang" peninggalan dan penguat eksistensi kerajaan-kerajaan Sunda tersebut...

Hingga akan berbedalah dengan sangat nyata ketika kita membandingkan antara eksistensi kerajaan urang sunda (yang tidak mementingkan unsur-unsur buatan hasil akal budi manusia) dengan eksistensi kerajaan-kerajan wong jowo (yang selalu saja "meninggalkan" peninggalan-peninggalan monumental semisal patung-patung dewa,candi-candi atau istana sebagai artefak wong jowo yang masih menjelma hingga kini).... Dimana semua peninggalan artefak kerajaan-kerajaan jawa itu tiada lain dipicu oleh faham reduksionisme .... sebagai Millah yang mendorong wong jowo mereduksi Tuhannya menjadi sesosok patung-patung dewa-dewa.....hingga mereduksi pula suatu sarana peribadatan menjadi "tempat ibadah" dalam bentuk candi-candi,..... juga mereduksi aspek-aspek tempat tinggal menjadi sebuah "istana" yang megah.

Lalu apalah urgensinya dan keunggulan "holisme" Sunda tersebut???.... yang tidak mengedepankan unsur subjektif dan ego-sentrisme dalam mengedepankan warna akal-budi urang sunda??...

Tiada lain urgensi holisme tersebut adalah dalam rangka menumbuhkan sifat-sifat "hanifiah"... yaitu sejumput sifat-sifat manusia yang haus mencari arah kebenaran setelah dia terbelokan oleh suatu kesalahan ego manusia.... sejumput sifat-sifat kehanifan yang terus berusaha menempuh jalan lurus setelah sebelumnya pernah terbelok-kan oleh subjektifitas dan ego setiap manusia....

Kehanifan Ki sunda tak mungkin terbatasi oleh suatu tampilan kuda-kudaan atau kuda kepang dalam rangka mengenal "kuda" yang benar-benar kuda... dia tak akan puas dengan hanya "tahu" kuda dari kuda-kudaan dan kuda kepang semata... dia selalu ingin tau "ujud" alamiah dari kuda... cara alamiah kuda berkembang-biak... hingga sangat haus pula untuk mencari "pengetahuan" tentang siapakah pencipta kuda-kuda yang dapat meringkik dan beranak pinak itu??.... dan seterusnya hingga seterusnya tanpa batasan aspek-aspek materiil yang dapat dipuaskan oleh barang-barang artificial buatan akal budi manusia.

Tak mungkinlah kemudian bagi sa-Urang Sunda sejati .... untuk terpuaskan "mengetahui" Tuhan dari patung-patung dewa semata.... dia akan terus berkelana ke segenaf ufuk untuk menelusuri "eksistensi" Tuhan yang  harus dia sembah.... Sementara dalam millah jawa Eksistensi Tuhan itu kadong direduksi menjadi patung-patung dewa semata....

Seterusnya... dan seterusnya.... hingga dengan sifat-sifat kehanifan sunda yang didorong oleh faham Holisme alamiah itu ... sedikit-banyaknya "sebangun" dengan kehanifan Ibrahim bapak Para Nabi.... yang rela bersusah payah untuk mencari dan terus mencari ... untuk mengetahui sesuatu "eksistensi" Tuhan pencipta seluruh alam termasuk manusia itu sendiri.... dan tak pernah terpatok oleh ujud patung-patung Dewa yang dianggap sebagai Tuhan dan disembah oleh orang Tua Ibrahim a.s.....

Maka bandingkanlah pula perbedaan cara pandang Leluhur Sunda dan leluhur jawa terhadap "Dinul Islam".... yang akan kita kupas pada jilid selanjutnya.... bersambung

(read more ...)
Mei 03

Setelah Aa Gym?... Who’s Next?

Ironi & Paradoksal 1 Comment »

"Halodo sataun lantis ku hujan sapoe"

Kering kerontang akibat kemarau satu tahun... hilang tak berbekas oleh guyuran hujan sehari... itulah kira-kira makna Ayat-ayat Kawniyyah yang sering digaungkan oleh para leluhur Sunda...

Bertahun-tahun upaya Aa Gym membersihkan hati... hilang tak berbekas di mata-hati Ummat oleh "satu" guratan nasib yang beliau alami.....

Sejak tahun 90-an... beliau mulai mengeliat...

Dan terhenyaklah sejak saat itu... mata lahir-bathin ummat....

akibat Qolbun Salim kah?... hati bersihkah?... atau oleh metode Manajemen Qolbu?...

Berduyun-duyun orang-orang mengikuti dan mencermati segala tingkahnya...

Ummat seakan "hakim".... ketika sesuai dengan keinginan kebanyakan Ummat... maka goyang 3G (gual-geol-gitek) pun bolehlah dihalalkan sedikit...

ketika sesuai dengan keinginan ummat kebanyakan... maka cicak-pun bisa demikian perkasa dibanding buaya ...

dan lain hal sebagainya.... ternyata memang benarlah suatu Qolamullah....

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut belum merubah nasib mereka masing-masing”. (Ar-Ra’ad:11)

Maka apalah daya dobraknya "kesholehan" seorang Muslim?... jika Ketetapan perubahan itu telah ditetapkan-Nya hanyalah dapat terwujud oleh "sekapasitas" Ummat Muslimin?....

Maka tak pelak lagi sekaliber Ahli bersih hati pun "ternyata" harus efektif sebagai satu agen mengotori ribuan hati Ummat yang telah dijadikan sarana Oleh-Nya untuk merubahan keadaan suatu Kaum itu sendiri...

Tak ada lagi "Kebersihan" hati ummat untuk menilai "nila setitik" yang dianggap telah merusak susu sebelanga...

Tak ada lagi "Kebersihan" hati ummat untuk menghindari kutukan pepatah "Halodo sataun lantis ku hujan sapoe"

Karena memang perubahan nasib atau apapun juga yang terkait Ummat... haruslah Ummat itu sendiri yang berkehendak... Bukanlah orang-per-orang... kecuali sekelas Nabiyullah Rasululloh SAW...

Apalah lacut.... Aa Gym hanyalah seorang manusia yang bukan sekaliber Rasululloh... dia bukanlah representasi sekumpulan UMMAT...

Hingga amal sholehnya untuk "membersihkan hati" bukanlah dasar bagi perubahan "hati" ummat pada saat ini... yang dapat dijadikan acuan ke arah kebersihan hati dari Ummat Muslimin....

Yang harus kita tetap yakini..... tak adalah maksud buruk nan tercela dari Qolamullah Surat Ar-Ra’ad:11...

Yang ada hanyalah peluang besar dari orang-per-orang untuk bersatu padu merubah diri...

satu orang merubah diri... datanglah pula satu lagi orang merubah diri... satu lagi.... satu orang lain... satu orang lagi... hingga demikian seterusnya... dari satu-per-satu orang yang bersedia membersihkan "hati" ... lambat laun sekumpulan UMMAT akan "diridloi-NYA" menjadi UMMAT yang berubah nasibnya berkat upaya bersama-sama membersihkan hatinya ....

Yang jelas UMMAT yang bersih hati itu bukanlah saat ini tampil kemuka.... karena mungkin saja baru sekitar 13,568123 % saja yang tetap Istiqomah membersihkan hati....

Tapi sekitar 86 persenan UMMAT... saat ini sedang berjaya menentukan nasibnya....

Maka apalah aral-lintangnya jika pada saat ini yang 86 persenan itu mudah mengotori hatinya oleh sebuah noktah titik nasib "seorang" Aa Gym?...

Lawong Rahmat Illahi tetaplah terbentang....

kelak dikemudian hari bisa jadi 23% ummat... 37% Ummat... selanjutnya 62 % Ummat... 79% ummat... hingga akhirnya 99,9987098 % ummat "berhasil" membersihkan hatinya.... walaupun pada saat itu telah terdapat "selebritis" kondang yang berupaya sekuat tenaga mencoba mengotori 99,9987098 % hati ummat... maka Alloh Azza wa Jalla tetaplah meridloi ummat tersebut untuk "selalu" membersihkan hatinya...

Maka setelah Aa Gym siapa lagi yang akan "turut" serta membersihkan hatinya?...

Dan dia tidak akan "ikut-ikutan" terlarut arus utama ummat pada saat ini... yang begitu mudah "terkotori" hatinya oleh nasib "seorang" selebritis belaka....

Maka setelah Aa Gym... who"s next?.... yang pernah tak mau  peduli sedikit-pun oleh perubahan cybermq berubah menjadi abatasa... hanya gara-gara satu guratan nasib dari seorang selebritis....

(read more ...)
Mar 17

Keadilan Cinta Hanyalah Buah Dari Poligami

Ekspedition 2 Comment »

Adalah seorang muslimah ... bernama Eni Solehah, S.Psi....Dari gelar yang disandangnya tentu saja kita semua mulai bisa menerka bahwa ia adalah seorang psikolog....

Memang benar.... sebelum dia menikah dengan Bapak Husni Adilah... dia pernah bekerja sebagai Psikolog handal ... suatu profesi yang sangat membantu bagi upaya membenahi atau menyembuhkan kesakitan dan kegundahan jiwa bagi banyak orang....

Dahulu ... praktek mengatasi kegundahan jiwa dari klien-kliennya adalah keahlian utamanya.... Namun kini, setelah anak laki-laki semata wayangnya masuk TK ... justru kegundahan jiwanya sendiri pun begitu mengelayut tak bisa diatasi sendiri walau berbekal berbagai metoda dan disiplin ilmu kejiwaan yang dimilikinya.

Sejak 2 hari lalu rasa gundah, bimbang dan kesumpekan jiwa begitu pekat mengelayuti hati dan pikirannya... Tiada lain sumber kegundahan itu dipicu oleh salah satu opsi yang ditawarkan kepadanya oleh Bapak Husni Adilah... agar keinginan anak laki-laki kesayangannya bisa cepat-cepat terpenuhi, yaitu mempunyai adik... maklum saja taraf kesejahteraan Keluarga Husni Adillah diatas rata-rata kebanyakan orang, sehingga berbagai keinginan material dari anak tunggal satu-satunya itu selalu saja bisa terpenuhi.... Namun untuk urusan memperoleh adik bagi anak laki-laki kesayangannya itu .... adalah suatu hal yang mustahil terwujud... pasca rahim Ny. Eni Solihah dikuret hingga tak memungkinkan baginya untuk bisa hamil lagi.

Awalnya rumah mewah yang sudah ditinggalinya sejak kelahiran anak pertamanya itu seibarat Baiti Jannati... kini berubah 180 derajat seibarat Baiti naari .... Pasalnya Bapak Husni Adilah menawarkan opsi menikahi lagi dengan wanita lain agar keinginan putra tersayangnya dapat cepat-cepat terkabul walau adiknya itu nanti tidaklah berasal dari rahim yang sama dengan rahim yang mengandungnya dulu.... Tak tanggung-tanggung wanita lain calon madunya itu, tiada lain adalah mantan baby sitter yang kini menjabat pula sebagai pembantu rumah tangganya... seorang janda miskin seusia Ny. Eni yang dari dulu hinggi kini begitu telaten merawat anak tunggal kesayangannya yang diberi nama "Barack" Adillah (Nama aslinya sih ...Mubbarak Adilah.... namun ketika setahun setelah dia lahir bertepatan dengan hangat-hangatnya momen euforia pengangkatan Barack Obama menjadi Presiden AS)... dan Tawaran suaminya itu harus segera dia putuskan jawaban pastinya... apakah akan rela hati dan setuju suaminya kawin lagi??... ataukah menolak mentah-mentah opsi poligami tersebut?

Dipagi itu, Ny Eni mencoba taktik baru dalam rangka mengatasi gundah hatinya.... dia berangkat mengantar Barack Adillah ke Taman Kanak-kanak bonafit di kotanya... lebih pagi dari jadwal biasanya.... tentu harapannya adalah agar dirinya dapat cepat-cepat keluar dari suasana tak keruan di rumahnya yang kini begitu terasa panas menyengat hati seibarat tinggal di neraka...

Tiba di halaman bermain TK tempat anaknya dididik.... tentu saja dalam keadaan masih sepi karena teman-teman Barack belum pada datang..... dan seperti biasa Barack Adillah cepat-cepat menghampiri arena bermain kesukaannya yaitu papan cungkelik-cungkedang (jungkit-jungkitan)... dengan semangat 45 dia langsung menunggangi papan jungkitan sisi sebelah kanan... namun wajahnya langsung terdiam hening sambil cemberut.... pasalnya papan jungkitannya tak mau bergerak naik-turun seperti yang sering ia nikmati... kontan Barack Adilah menangis keras-keras akibat kesal bercampur marah karena keinginannya untuk menikmati sensasi naik-turunnya jungkitan tidak terpenuhi... dan tangisan kesal anaknya itu semakin menambah kegundahan hati Ny Eni... Bukannya segera bergegas meredakan tangisan putra tersayangnya  dirinya malah semakin tak berdaya menahan rasa gundah hingga berlinang air mata mencucuri pipinya.

Sesaat berselang datanglah Mrs Ayuki Tawazuni beserta anaknya Hidetoshi Tawazuni.... dia terheran-heran melihat moment tangis-menangis diantara ibu dan anak.... dan segeralah dia menghampiri Ny Eni seraya bertanya apakah gerangan yang terjadi?.... Dan setelah Ny Eni mengutarakan kegundahan anaknya yang tidak bisa menikmati sensasi naik-turun cungkelik-cungkedang ... maka ia cepet-cepet menyuruh Hidetoshi untuk naik ke sisi kiri papan jungkitan..... Dan sejenak kemudian berhinggarlah tawa riang Barack Adillah dan Hidetoshi Tawazuni....

Apakah tak terpikirkah oleh mu Mrs Eni?.... tukas Mrs. Ayumi Tawazuni… turun naik jungkitan hanyalah terjadi berkat adanya “lawan penyeimbang” yang memicu terus berlangsungnya  moment "Kesetimbangan Dinamis" yang continue?... tukasnya lagi. … Janganlah heran jika hati kita gundah karena kita tak mau “menghadirkan” pihak lain sebagai lawan penyeimbang  tuk meraih kesetimbangan hidup yang dinamis …demikian ucapan-ucapan filosofis Mrs. Tawazuni… maklumlah dia adalah seorang Filosof non muslim yang sedang “kuliah” mengkaji ilmu-ilmu keislaman di sebuah Perguruan Tinggi Islam Negeri

Ucapan filosofis Mrs Tawazuni itu… tidaklah diambil hati…. Karena perasaan Ny. Eni saat itu seakan terhanyut oleh keriangan dan sensasi naik turun jungkitan yang melanda hati anaknya... dan secara otomatis hilang musnahlah kegundahan yang sesaat lalu begitu mengelayuti bathinnya hingga tibalah bel masuk kelas berbunyi yang memaksa Barak Adillah dan Hidetoshi Tawazuni segera bergegas masuk kelas.

Sambil menunggu anaknya selesai belajar di kelas O besar... perlahan-lahan kegundahannya yang sesaat lalu hilang ...kini menyeruak kembali memenuhi relung-relung jiwanya... dan tanpa disadari... di tengah permenungannya... melelehlah kembali cucuran air mata membasahi pipinya.... Hal itu kembali mengundang iba Mrs Tawazuni... Dia kemudian bertanya kembali apalah lagi gerangan kesedihan hati yang melanda Ny. Eni.... saking tak bisa menahan rasa gundah Ny Eni tidak mampu tuk menjawab dan membalas sapaan Mrs. Tawazuni.

Mrs. Tawazuni tidak patah akal menghadapi kebisuan Ny Eni.... dituntunlah tangan Ny Eni sambil menuju ke papan jungkitan... seraya berseloroh.... Aaahaaa....I know What You Want... Mrs Eni perlu lawan penyeimbang-kah?...tuk main jumpitan?? tukas Mrs. Tawazuni dalam logat Jepang yang kental.... Seibarat kerbau dicocok hidungnya.... Ny. Eni menurut saja ketika didudukan di sisi kanan papan jumpitan... dan setelah Mrs. Tawazuni menduduki sisi lainnya ....tersadarlah Ny. Eni akan sensasi naik-turun jumpitan yang begitu disukai anaknya.... Seakan kedua ibu berumur 30-an itu tak sadar atas prilaku kekanak-kanakan ketika menikmati cungkelik-cungkedang.... keduanya cuek saja ketika ibu-ibu yang lainnya  meneriaki tingkah mereka berdua dengan cemoohan... masa kecil kurang bahagia... Dan yang paling penting adalah sensasi turun-naik Jungkitan itu benar-benar berhasil membuyarkan kegundahan di hati Ny Eni.... dirinya begitu asyik terhanyut naik-turun cungkelik-cungkedang sambil diselingi ngobrol ngalor-ngidul tentang isu apa saja dengan Mrs. Tawazuni.... hingga waktu menunjukkan bubaran anak TK....

Tiba kembali dirumahnya adalah saat yang terasa sangat menyiksa... Selepas menganti baju anaknya dia bergegas menuju papan jumpitan di halaman samping taman rumahnya... Ingin rasanya dia mengulang kembali "sensasi" masa kecil kurang bahagia yang dinikmatinya di papan jungkitan bersama dengan Mrs. Tawazuni agar kegundahan hatinya dapat kembali berlalu.... juga tergiang kembali ucapan-ucapan filosofis dari Mrs. Tawazuni …Tak disadari permenungan diri di sisi kanan papan jumpitan itu .....membuatnya lengah…tak menyadari ketika sang pembantunya bernama Nurul Sakinah -calon madunya itu- datang menghampirinya seraya bertanya apa gerangan penyebab muram durja di wajah majikannya itu.... Ny. Eni bukannya menjawab malahan mukanya berwajah ketus dan diam membisu tak menjawab pertanyaan pembantunya.... Anehnya sang pembantu tidak menghiraukan tanggapan ketus dari majikannya itu.... dia malah duduk di sisi kiri papan jumpalitan yang sontak menjungkatkan sisi kanan yang diduduki Ny. Eni... wajah ketusnya sontak berubah menjadi keterkejutan.... belum habis rasa terkejut itu hilang ….dirinya sudah harus berupaya menyeimbangkan diri agar posisi jumpitannya segera turun.... dan setelah posisi turun tentu saja segera naik lagi dan begitu seterusnya hingga sensasi cungkelik-cungkedang yang tadi pagi dinikmatinya bersama Mrs. Tawazuni kembali menghiasi hatinya... keriangan spontan kemudian muncul.... menghapus wajah ketus dan muram durja.... sambil tersipu malu dirinya kemudian menyapa sang calon madunya sambil terus menikmati momen dan sensasi naik-turunnya papan jumpitan.... dan tak terasa obrolan-obrolan hangat-pun bersambutan diantara kedua.... mulai dari membahas menu makan malam yang akan dimasak sang pembantu yang tiada lain calon madunya itu... hingga curhat sang pembantu yang selalu digoda oleh tukang-tukang ojeg ketika mengantarnya belanja ke pasar....

Hingga tiba-tiba saja kehangatan obrolan diantara keduanya buyar... akibat Barack Adilah mencak-mencak tak rela sarana bermain kesukaannya dipakai oleh ibu dan calon ibu tirinya.... Kemudian Ny Eni berusaha meredakan protes keras anak kesayangannya itu dengan mengajak Barack Adillah main jumpitan.... Selama menemani anaknya main jumpitan ... hatinya kembali terenyuh oleh keinginan anaknya untuk punya adik dan hal itu menghujamkan kembali belati kegundahan ke dalam hatinya... Namun kini dalam benaknya berlangsung pula daya analisa tentang berbagai aspek "keadilan" yang tiba-tiba tersirat dari main cungkelik-cungkedang ... baik yang pernah dirasakannya dengan Mrs. Tawazuni maupun dengan Sang Pembantu yang dirasakannya sangat efektifitas untuk pembuyaran kegundahan dalam hatinya.... tercetuslah inspirasi tentang "Keadilan Cinta" yang tersiratkan dalam permainan cungkelik-cungkedang juga diperkuat dari ucapan filosofis Mrs. Tawazuni....
Selepas memenuhi kepuasan anaknya main cungkelik-cungkedang.... dirinya akhirnya tersadarkan akan suatu pelajaran Hikmah dan falsafah dari Cungkelik-cungkedang yang telah dirasakannya begitu efektif membuyarkan segala kegundahan dalam hatinya.... Ny Eni tiba-tiba beristighfar... seraya mengumankan tasbih, tahmid dan takbir... dirinya segera menghampiri Nurul Sakinah ...dan memeluk erat sang pembantu itu seraya berucap kata-kata maaf atas sikap ketus yang selalu tersaji kepada pembantunya itu menjelang tempo 3 hari terakhir.... Dan tanpa diduga sebelumnya... pada malam harinya dia utarakan jawaban penting yang ditunggu suaminya... bahwa dirinya rela untuk di-poligami.... MasyaAlloh.

Pembaca pasti bertanya-tanya apakah gerangan sebab-musabab yang mendorong Ny Eni memilih keputusan bulat dan jawaban siap untuk di-Poligami yang diutarakan kepada suami..... semuanya itu dapatlah terjawab jika menyimak epilog tulisan ini....

Maka berlangsunglah pernikahan suci untuk kedua kalinya dalam sisa kehidupan Bapak Husni Adilah... seorang bapak yang kini beristri dua... dan pernikahannya itu tidaklah mengoyahkan kedudukannya sebagai seorang Anggota legislatif dari "Partai Keadilan" (Bukan PKS-red)... karena semuanya berlaku atas dasar izin dan kerelaan Istri pertamanya Ny. Eni Solihah.

Setahun kemudian lahirlah anak perempuan dari rahim Nurul Sakinah .....adik bagi Barack Adilah.... Maka lengkaplah kebahagian Keluarga Bapak Husni Adilah berkat kesolehan "hati" Istri pertamanya.... yang dirinya dikarunia hidayah tentang "keadilan Cinta" yang dijamin akan menyeruak jika berlangsungnya praktek Poligami yang ternyata semuanya itu "tersemburat" gara-gara momen-momen "Ketawazunan" ... Momen kesetimbangan hidup pemicu berbuahnya jaminan "Keadilan Cinta" karena hadirnya pihak lain sebagai penyeimbang dalam sebentuk Poligami ...dimana hikmah pentingnya “lawan penyeimbang” itu merupakan inspirasi yang dihadirkan dalam permainan jumpitan Ny. Eni bersama Mrs. Ayumi Tawazuni dan ucapan filosofisnya....

Dua Tahun Sudah.... Praktek poligami berkeadilan oleh Bapak Adilah berlangsung.... dihiasi keberkahan rumah tangga sakinah.... yang awalnya bergolak keras namun akhirnya mereda menyeruakkan Keadilan Cinta hakiki...

Berkah dari kerelaan Ny Eni tuk di-poligami ... maka dirinya kemudian mendirikan lembaga Konsultasi Keluarga Sakinah.... yang diberi nama "Tawazuni Center".... Nama tersebut dipilih tentu saja sebagai rasa hormatnya kepada Mrs. Ayumi Tawazuni hingga diraihnya Hikmah Ketawazunan (keseimbangan hidup).
Beliau berpraktek kembali sebagai Psikolog yang membantu mengatasi masalah yang dihadapi oleh Istri-istri yang akan dipoligami atau yang sedang dipoligami....
Dimana "jurus jitu" yang selalu disodorkan kepada sekian kliennya adalah semboyan.... "Raihlah keadilan cinta yang hanya akan muncul dalam momen-momen pernikahan poligami"...

Mengapakah semboyan itu muncul demikian?...


Menurutnya.... dalam pernikahan monogami tidak akan pernah ada suatu tuntutan dari seorang istri untuk memperoleh "Keadilan Cinta" dari sang suami.... lawong sepenuh cinta suaminya pastilah terhidang bagi istrinya seorang.... Itupun hanya bisa “terjamin” jika sang suaminya itu tidak berselingkuh atau nikah siri dengan wanita idaman lainnya (WIL).
Makna keadilan cinta bagi Ny. Eni adalah "hanya" tercetus jika sang suami memperoleh kewajiban membagi cinta sama rata kepada dua istrinya... hingga kepada empat istrinya jika dia mampu... yang semuanya hanya mungkin tercipta dalam momen-momen praktek poligami…. Disanalah terciptanya suatu tuntutan yang mutlak harus diperoleh oleh dua orang hingga empat orang istri dari alokasi 100% cinta sang suami.... yang kemudian harus dibagi dua menjadi masing-masing 50% jika beristri dua... atau masing 25% jika beristri empat.


Dari pengalamannya di-poligami dan berkat falsafah "Ketawazunan" yang diperoleh dari ucapan dan momen main jungkitan dengan Mrs. Ayumi Tawazuni.... Menurut pandangan Ny. Eni kadang kala keadilan cinta dari sang suami itu tidaklah selamanya “Kesetimbangan statis”.... Namun selalu dinamis .... seibarat naik-turunnya mainan cungkelik-cungkedang .... seringkali cinta suami bergeser condong ke istri kedua ....... tapi janganlah terlalu khawatir... karena dengan adanya “Kesetimbangan Dinamis” ..maka hal itu tak mungkin berlangsung lama karena akan segera tiba saatnya bergeser kembali ke Istri pertama.... jikalau Praktek poligami “Berkeadilan” itu tetaplah dipertahankan... Seibarat terus dipertahankannya "Ritme" naik-turunnya papan jumpitan yang "bergantian" turun-naik ke posisi sebelah kanan maupun ke sebelah kiri secara bergantian yang menciptakan Kesetimbangan Dinamis.... dan seibarat Sensasi naik-turunnya papan jungkitan... maka sensasi dari “Pergeseran Cinta" itu adalah wajar terjadi yang menjelmakan kesetimbangan dinamis dalam poligami, ... sedangkan Keadilan statis adalah sangat naif sebagaimana hal itu disinyalir dalam Surat An-Nisa‘ ayat 129: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…”.....

Pendek kata "kesetimbangan Dinamis" itulah yang akan menjadi sensasi tersendiri dalam berpoligami selama sang Suami tetap berkomitmen dan dituntut untuk tetap berlaku "adil" dalam membagi cinta kepada istri-istrinya..... sebagaimana berlangsungnya sensasi Cungkelik-cungkedang yang dinamis seperti pernah dinikmatinya bersama Mrs. Tawazuni atau dengan Nurul Sakinah... yang di kemudian hari menjadi madunya dan ibu dari adik anak kesayangannya.......

Sejak memperoleh Inspirasi "Keadilan Cinta" dan kesetimbangan dinamis dari permainan jungkitan tersebut..... Ny. Eni selalu berdzikir atas keadilan yang selalu Dilimpahkan Alloh SWT kepada ummat manusia.... atas ditetapkannya Perintah Sunah Poligami pada beberapa ayat Surat An-Nisa....yang jika dikaji asbabun Nuzulnya pada ayat-ayat tersebut... maka yakinlah dirinya bahwasannya perintah poligami tersebut adalah benar-benar disyariatkan untuk mencegah pelecehan terhadap derajat wanita-wanita malang maupun wanita-wanita sholihat yang selalu “dijamin” terlimpah kepadanya sebentuk "Keadilan Cinta" yang tak mungkin tercetus dalam suatu momen pernikahan monogami
Sekian..... semoga dapat diresapi hikmahnya.......wasalam.

(read more ...)
Mar 15

Pelajaran Keadilan Dalam Kelas Poligami Dan Rasisme

Falsafah Dasar 0 Comment »

Banyak orang .... baik muslim atau bukan....sangat rindu memperoleh keadilan.... bahkan sekelas koruptor seperti Gayus pun ternyata harus diperlakukan dengan adil..... Walaupun gayus terbukti "salah" menggelapkan Pajak dan kemudian dihukum penjara... Namun tetap saja dirinya harus terlebih dahulu diadili (oleh sesama manusia tentunya)....

Titik kunci bagi kita semua adalah keadilan macam apa yang harus kita tujui??....

Keadilan duniawi-kah??.... seperti yang tengah dirasakan oleh Gayus.... yaitu sebentuk keadilan yang sering ditujui pula oleh kaum "melek huruf" dijaman modern ini??...

Padahal jika kita kembali kepada Al-Quran dan As-Sunah.... ternyata sebentuk keadilan itu telah jelas aral-lintangnya... telah jaleh pula indikator-indikatornya..... yang dapat selalu kita tempuhi dengan cara meneladani Jalan Keadilan yang ditempuhi Rasululloh...

Rasululloh SAW adalah sesosok insan mulia yang tak mungkin lagi digugat taraf keadilannya.... Hingga tidaklah mengherankan jika beliau pantas sekali untuk berpoligami.... karena syarat utama melakukan poligami adalah "harus adil"...

Telah pula diwahyukan kepada Rasululloh SAW untuk bersikap "adil" dalam ranah Rasisme.... suatu ranah yang terkait dengan telah diciptakanNya ummat-ummat manusia dalam berbagai ragam perbedaan warna kulit, ciri bahasa dan aspek rasial sebagaimana diterangkan dalam Surat Al Hujurat.... dimana semua ragam perbedaan itu adalah dalam rangka litaruffi...saling mengenal "pembeda" antara ras yang satu dengan ras yang lainnya ..... dari sekedar mengenal perbedaan warna kulit hingga mengenal tabiat baik-buruk dari suatu kaum....

Dalam hal tabiat buruk suatu ras.... maka tak dapat terelakan lagi (bagi siapapun jua) untuk timbulnya rasa manusiawiyyah berupa "kebencian" terhadap tabiat buruk suatu kaum tersebut...

Namun Kebencian dalam bentuk apapun .... janganlah pernah membuat sesama manusia beriman untuk tidak berlaku adil......  berlaku adil-lah terhadap setiap nilai kebaikan atau keburukan suatu kaum atau ras.... karena hal itu lebih dekat kepada derajat taqwa...amin.

Dan rasululloh SAW adalah insan yang sangat tinggi "taraf keadilannya" ... dan beliau secara tak terbantahkan adalah pelaku "suci" poligami dan sangat membenci tabiat buruk dari suatu kaum (rasisme yang berdampak positif dan menuntun penghapusan tabiat-tabiat buruk suatu ras)....

Pendek kata ... dengan keadilan-lah maka standar of procedur (SOP) dalam berpoligami dan berlaku rasis akan "dijamin" berujung kepada keberkahan ....kebaikan yang terus menyemburat demi raihan rahmatan lil-alamin... rahmat bagi seluruh alam...sebentuk Rahmat-Nya yang  tidak sebatas rahmat bagi sang istri pertama semata... atau istri kedua semata...istri ketiga hingga ke-empat semata... dan tentu saja tidaklah sebatas rahmat kepada kaum berkulit putih semata... atau kaum berkulit hitam dan kulit kuning semata.....

Daripada terus menerus tiada henti dan menghujat habis-habisan praktek Poligami dan Rasisme.... maka alangkah lebih baiknya jika kita semua ....orang-orang muslim yang pasti beriman... untuk berusaha sekuat mentalnya menetapi keadilan ... baik keadilan dalam lingkup pribadi dan keluarga ... maupun keadilan dalam lingkup yang lebih luas dalam kapasitas ras-ras yang berbeda yang membentuk Ummah yang Satu ....Wahidul Ummah....

Jikalau setiap diri telah menetapi keadilan dengan sesungguhnya... maka apalah salahnya jika kemudian Alloh Azza wa Jalla "mengizinkan" seseorang itu untuk menerapkan SOP poligami dalam sisa hidupnya??....

Apalah salahnya setelah melihat dan merasakan  tabiat-tabiat buruk dari suatu kaum.... kemudian menuntun dirinya untuk berlaku "rasis" ... seraya sikap rasis tersebut selalu saja dikendalikan dengan "keadilan".... hingga dengan keadilan dalam rasisme semacam itu akan berdampak "positif" dalam memberangus dan meniadakan tabiat-tabiat buruk dalam suatu ras atau kaum...

maka bertanyalah sekali lagi .....apalah salahnya jika setiap diri berpoligami dan berlaku rasis... selama setiap diri itu tetaplah berlaku "adil"??....

Dan jika jawab yang tercetus dalam hati pembaca semua adalah tetap "menyalahkan" praktek Poligami dan rasisme oleh seseorang... maka segeralah hujatlah "kemaksuman" Muhammad Rasululloh SAW.... sebagai tanda bahwa dalam diri dan benak anda belumlah bersemayam "taraf keadilan" sebagaimana telah dianugrahkan Alloh SWT kepada sesosok insan suci bernama Muhammad ... khotaman Nabiyyin... yang telah sukses dengan keadilannya menetapi episode poligami dan sukses pula dalam penghapuskan tabiat-tabiat buruk dari ras tertentu

atau mungkin sikap menyalahkan SOP poligami itu muncul dalam benak anda karena melihat berbagai "kesalahan" dalam praktek poligami di masa kini..... maka seyogyanyalah anda harus mulai belajar "adil" dengan cara menyalahkan "sikap" dari setiap pelaku poligami karena personaliti-nya tidak berlaku "adil"....

atau mungkin timbulnya sikap menyalahkan Rasisme dalam benak anda itu ... karena melihat kebencian tiada tara dari Hitler yang "katanya" tega menghabisi Ras Yahudi.... atau setelah melihat kebencian kaum kulit putih penganut Politik Apartheid yang begitu membenci hitam legamnya kulit Ras Afrika......maka seyogyanyalah anda harus tetap berlaku "adil" dengan cara menyalahkan "sikap" dari Adolf Hitler karena tidak berlaku "adil" dalam membenci kaum Yahudi....dan menyalahkan pula sikap kaum Apartheid yang menerapkan rasisme atas semangat "kebencian" semata....

Juga alangkah naifnya jika seseorang telah merasa dirinya menjadi "ratu adil" atau menjadi ponggawa "partai keadilan" .... tetapi ternyata dirinya belum di-izinkan Alloh SWT untuk berpoligami karena "selalu" takut tidak bisa berbuat "adil"

Akibat Phobia yang selalu takut Kalau-kalau tidak bisa berbuat adil.... maka taraf keadilan  yang dianugrahkan kepada rasululloh SAW itu ...seakan-akan semakin menjauh untuk bersemayam dalam setiap diri muslim yang beriman....

Seorang Muslim laki-laki berkecukupan selalu merengek-rengek minta keadilan ... tapi emoh untuk berlaku "adil" hingga dimampukan-Nya untuk berpoligami...

Kaum muslimin terus merengek-rengek minta keadilan dari DK-PBB... tapi emoh untuk berlaku "adil" dalam menilai keburukan ras aria dan ras-ras lainnya... hingga keburukan dan ketidak-adilan dari ras-ras Aria tersebut semakin melembaga dalam ujud hak veto The Big Five...

Maka keadilan macam apakah yang ingin kita raih??.... jika indikator-indikator "keadilan" yang nyata-nyata ditetapkan dalam Al-Quran dan Assunah selalu saja kita tolak mentah-mentah...... kita tolak indikator keadilan bernama Poligami.... dan kita selalu tolak pula indikator taqwa yang menjamin menuntun setiap diri untuk berlaku rasis secara berkeadilan..... cag ah...Wassalam

(read more ...)
.::. Designed by SiteGround Web Hosting

cssandhtml